Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kenaikan harga juga terjadi pada nikel yang telah melesat lebih dari 20% hingga menembus US$18.000 per ton. Lonjakan ini dipicu oleh penurunan produksi Indonesia yang diperkirakan mencapai 24% dibandingkan tahun sebelumnya, dari sekitar 790 juta ton menjadi kisaran 600 juta ton.
Emiten metal di Indonesia umumnya tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Mayoritas telah memperluas usaha melalui hilirisasi, termasuk pembangunan smelter untuk mendukung industri berkelanjutan seperti baterai dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Pasar Global Masih Beri Tekanan
Sementara itu, pasar Asia-Pasifik cenderung bergerak lesu. Sentimen negatif datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor panjang yang mencapai level tertinggi baru.
Investor global juga mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik dan perdagangan, terutama ancaman tarif baru dari Amerika Serikat terkait Greenland. Negara-negara Eropa dilaporkan tengah membahas tarif balasan dan langkah ekonomi hukuman sebagai respons atas kebijakan Presiden AS Donald Trump, yang berpotensi memperketat hubungan perdagangan global.
Kondisi eksternal tersebut diperkirakan masih akan membayangi pergerakan pasar saham regional, termasuk IHSG, dalam jangka pendek. (*/rnc)
