Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Mengawali hari pertama tahun 2026, harga Bitcoin terpantau melemah sekitar 1,03 persen ke level 87.502 dolar AS. Pelemahan ini lebih dalam dibandingkan kinerja pasar kripto secara keseluruhan yang tercatat turun 0,73 persen.
Penurunan harga Bitcoin sejalan dengan munculnya sinyal teknikal bearish serta meningkatnya tekanan dari arus keluar dana investor institusional melalui produk exchange-traded fund (ETF). Meski demikian, tekanan jual relatif tertahan oleh langkah Tether yang dilaporkan mengakumulasi Bitcoin senilai 778 juta dolar AS.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Kamis (1/1/2026), tekanan terbesar datang dari sisi institusional. Pada 31 Desember 2025, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih sebesar 348,34 juta dolar AS, menjadi yang terbesar dalam dua bulan terakhir.
Arus keluar dana tersebut dipimpin oleh BlackRock dengan nilai mencapai 99,3 juta dolar AS, disusul Grayscale sebesar 69,1 juta dolar AS. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya sikap wait and see investor besar terhadap pergerakan harga Bitcoin dalam jangka pendek.
Di sisi lain, perdebatan mengenai posisi Bitcoin dalam siklus pasar kembali menguat. Sejumlah analis dengan pandangan pesimistis menilai penurunan Bitcoin sekitar 20,75 persen dalam 60 hari terakhir sebagai sinyal bahwa pasar telah memasuki fase bearish.
