Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Abuja, RakyatNTT.ID – Gelombang penculikan massal kembali mengguncang Nigeria. Kelompok kriminal bersenjata dilaporkan menculik puluhan orang yang tengah mengikuti kebaktian di dua gereja berbeda di Negara Bagian Kaduna, Nigeria, pada Minggu.
Seorang pemimpin gereja senior mengungkapkan bahwa lebih dari 160 jemaat dibawa paksa oleh pria bersenjata saat ibadah berlangsung. Insiden ini menambah panjang daftar penculikan massal di Nigeria yang menargetkan warga sipil, baik dari kalangan Kristen maupun Muslim, sebagaimana dilaporkan BBC.
Kelompok kriminal lokal yang dikenal dengan sebutan “bandits” kerap melancarkan serangan di wilayah utara dan tengah Nigeria dengan motif utama tebusan. Aksi mereka semakin memperburuk situasi keamanan nasional yang telah rapuh.
Kronologi Penyerangan
Berdasarkan keterangan kepolisian setempat, para pelaku yang membawa senjata canggih menyerbu dua gereja di Kurmin Wali, sebuah komunitas hutan di bangsal Afogo, sekitar pukul 11.25 waktu setempat.
“Penyerang datang dalam jumlah besar, memblokir pintu masuk gereja, dan memaksa para jemaat keluar menuju kawasan hutan,” ujar Pendeta Joseph Hayab, Ketua Asosiasi Kristen Nigeria untuk wilayah utara, kepada kantor berita AFP, dikutip Selasa (20/1/2026).
Hayab menambahkan bahwa informasi yang diterimanya dari para tetua gereja menyebutkan 172 jemaat diculik, sementara sembilan orang lainnya berhasil melarikan diri dari lokasi kejadian. Pernyataan tersebut juga disampaikan kepada Reuters.
Krisis Keamanan Nigeria
Penculikan ini bukan kali pertama menyita perhatian dunia internasional. Pada November 2025, lebih dari 300 siswa dan guru diculik dari sebuah sekolah Katolik di Nigeria sebelum akhirnya dibebaskan secara bertahap dalam dua gelombang.
Nigeria saat ini menghadapi berbagai tantangan keamanan serius, mulai dari penculikan untuk tebusan oleh geng kriminal, pemberontakan kelompok Islamis di wilayah timur laut, kekerasan separatis di tenggara, hingga konflik lahan dan sumber air antara penggembala dan petani di wilayah tengah.
Para pengamat menilai korupsi, lemahnya koordinasi intelijen, serta minimnya pendanaan bagi kepolisian lokal menjadi hambatan utama dalam upaya penanganan krisis keamanan nasional. Di tengah situasi yang kian memanas, Menteri Pertahanan Nigeria diketahui mengundurkan diri pada bulan lalu dengan alasan kesehatan. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

