Jakarta, RakyatNTT.ID Ekonom senior Bright Institute, Awalil Rizky, melontarkan peringatan serius terkait kondisi kesehatan fiskal Indonesia di awal tahun 2026. Berdasarkan analisisnya terhadap realisasi sementara APBN 2025, Awalil menilai terdapat risiko gagal bayar utang yang mulai mengintai keuangan negara.

Awalil memproyeksikan posisi utang pemerintah per 31 Desember 2025 telah mencapai Rp9.645 triliun, dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 40,52 persen. Menurutnya, klaim pemerintah bahwa kondisi utang masih aman terlalu bertumpu pada rasio terhadap PDB semata.

“Narasi pemerintah yang selalu mengatakan kondisi utangnya aman sejauh ini hanya berdasar rasio atas PDB. Berbagai indikator kerentanan utang yang lazim dipakai menganalisis kondisi seolah tidak diperlukan lagi untuk memastikannya,” kata Awalil dalam catatan analisisnya, dikutip Selasa (13/1/2026).

Iklan

Salah satu indikator paling mengkhawatirkan adalah Keseimbangan Primer (KP) yang tercatat defisit Rp180,7 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendapatan negara tidak cukup untuk membiayai belanja di luar pembayaran bunga utang.

Akibatnya, pemerintah harus menarik utang baru hanya untuk membayar bunga utang lama. Awalil memperkirakan penarikan utang baru secara bruto sepanjang 2025 mencapai Rp1.563 triliun, jauh lebih besar dari angka pembiayaan neto yang selama ini dipublikasikan.