Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Meski potensi berkembang menjadi siklon tropis dalam 24–72 jam ke depan tergolong rendah, bibit siklon ini dapat meningkatkan kecepatan angin lebih dari 25 knot di wilayah:
- Laut Banda
- Laut Arafura
- Maluku bagian selatan hingga tenggara
- Papua Selatan bagian selatan
Sistem ini juga membentuk daerah pertemuan dan perlambatan angin di Laut Timor hingga Papua Selatan bagian selatan.
Penguatan Monsun Asia Tingkatkan Risiko Cuaca Ekstrem
BMKG memprakirakan adanya peningkatan aktivitas Monsun Asia yang disertai Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) yang diprediksi menguat dalam sepekan ke depan. Kondisi ini memungkinkan massa udara lembap melintasi ekuator menuju wilayah selatan Indonesia dengan lebih cepat.
“Hal ini berdampak pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah selatan Indonesia, khususnya Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara,” jelas BMKG.
Kombinasi fenomena atmosfer tersebut berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan lebat hingga ekstrem.
Imbauan BMKG: Waspada Bencana Hidrometeorologi
BMKG menegaskan bahwa potensi cuaca ekstrem masih tinggi dan masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Masyarakat diminta melakukan mitigasi terhadap diri, keluarga, dan lingkungan sekitar guna mengantisipasi potensi cuaca signifikan yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir, banjir bandang, dan longsor,” imbau BMKG.
Prakiraan Wilayah Terdampak
Periode 23–25 Januari 2026
