Kupang, RakyatNTT.ID Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, melaksanakan sesi wawancara akhir bagi empat calon Direktur Perumda Pasar pada Jumat (5/12/2025) siang.

Wawancara berlangsung di ruang kerja Wali Kota dan menjadi tahapan terakhir dalam proses seleksi pengisian jabatan direktur BUMD milik Pemerintah Kota Kupang yang sempat vakum selama beberapa bulan terakhir.

Empat calon yang mengikuti wawancara sesuai urutan nomor yakni James Faot, Ganda Tallo, Stenly Boymau, dan Meilfrits Gaspersz. Satu per satu mereka dipersilakan masuk ke ruang kerja Wali Kota untuk mengikuti pendalaman materi terkait makalah yang sebelumnya telah dipresentasikan kepada Panitia Seleksi (Pansel).

Wawancara Tahap Final Penentu Keputusan

Wawancara berlangsung singkat karena fokus pada pendalaman visi, misi, dan program kerja setiap calon. Menurut salah satu calon direktur, Stenly Boymau, sesi ini merupakan puncak dari seluruh tahapan seleksi.

“Ini sesi paling puncak. Puji syukur karena kami berempat mengikuti sesi ini. Selanjutnya kita serahkan ke Pak Wali Kota. Beliau tentu memiliki konsep tentang tata kelola pasar yang profesional, sehingga pasti ada yang satu frekuensi dengan beliau,” ujar Stenly.

Stenly menegaskan bahwa keputusan kini berada sepenuhnya di tangan Wali Kota.

Komitmen Membangun Perumda Pasar

Di akhir sesi, Stenly—yang juga Wakil Ketua Umum KADIN NTT—menyerahkan makalah berisi visi, misi, dan program kerja kepada Wali Kota Christian Widodo.

“Saya serahkan visi, misi, dan program kerja saya sebagai bukti keseriusan membangun Perumda Pasar. Dan ini juga bisa dipakai oleh pemimpin baru jika bukan saya yang terpilih. Kita profesional, ide kita silakan dipakai untuk kemajuan kota ini,” tegasnya.

Usung Konsep “Pasar Naik Kelas” dan Digitalisasi Retribusi

Sebagai pengurus Japnas NTT dan APINDO NTT, Stenly membawa visi besar “Pasar Naik Kelas” melalui manajemen modern yang menitikberatkan pada digitalisasi pelayanan.

Salah satu program unggulan yang ditawarkannya adalah digitalisasi retribusi pasar melalui aplikasi khusus yang menyediakan berbagai pilihan pembayaran.

“Dengan layanan digital seperti E-Retribusi (QRIS & e-ticketing), pedagang punya identitas digital sehingga kita tahu siapa jual apa, di mana, dan berapa lama berkontrak. Pak Wali Kota bisa memantau pemasukan real time setiap hari,” jelasnya.

Ia optimistis penerapan sistem digital ini mampu mengurangi kebocoran pembayaran retribusi hingga 40 persen.

Soroti Kelayakan Lapak dan Kebersihan Pasar

Selain digitalisasi, Stenly juga menyoroti kebutuhan pembenahan fasilitas pasar, kelayakan lapak, dan peningkatan kenyamanan pengunjung. Ia menegaskan bahwa kebersihan pasar harus menjadi prioritas jangka pendek, menengah, dan panjang.

Sebagai Konseptor Kupang Green and Clean (KGC)—program yang menyumbang tiga Trofi Adipura bagi Kota Kupang—Stenly menekankan pentingnya tata kelola sampah yang lebih modern dan terintegrasi. (rnc)