Bank Dunia juga mencatat rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara telah mencapai 20,5 persen hingga Oktober 2025, yang berarti sekitar seperlima pendapatan negara terserap untuk membayar bunga utang.

Kondisi tersebut dinilai mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk belanja produktif dan meningkatkan risiko terhadap stabilitas makroekonomi.

Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.780 per dolar AS. (*/rnc)

Iklan