“Dalam beberapa hal, saya melihat mereka agak egois. Mereka hidup untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri,” ujar Tran Thanh Nam, Wakil Rektor Universitas Pendidikan di bawah Universitas Nasional Vietnam, dikutip dari CNA.

Menurutnya, sebagian generasi muda dinilai kurang memiliki perspektif sebagai warga negara yang memiliki tanggung jawab sosial. “Mereka kurang memiliki rasa kewajiban untuk berkontribusi,” tambahnya.

Pernikahan Masih Dihargai, Namun Bukan Kewajiban

Di sebagian besar negara Asia, pernikahan dan memiliki anak dulunya merupakan jalur kehidupan yang nyaris tak dipertanyakan. Namun, nilai tersebut kini mulai kehilangan pengaruhnya seiring meningkatnya kemandirian generasi muda.

Akses pendidikan yang lebih luas, peluang karier yang terbuka, serta diskusi yang semakin terbuka mengenai peran gender dan struktur keluarga mendorong generasi muda melihat lebih banyak pilihan dalam membentuk kehidupan yang mandiri dengan beban kewajiban yang lebih kecil.

Survei terbaru perusahaan riset pasar Milieu menunjukkan bahwa pernikahan dan anak-anak masih dihargai di Asia Tenggara, namun tidak lagi dianggap sebagai syarat utama untuk menjalani kehidupan yang memuaskan. Pandangan ini paling kuat dipegang oleh Generasi Z.