Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Inovasi modul pembelajaran kesiapsiagaan bencana berbasis perubahan iklim menjadi fokus utama dalam kegiatan Climate Ed-Hackathon yang digelar Program Generation Ready (GenRe), Jumat (12/12/2025) pagi, di Hotel Sahid T-More, Kota Kupang.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Kupang, Aurum Titu Eki.
Program Generation Ready (GenRe) merupakan hasil kolaborasi Save the Children Indonesia dan Yayasan CIS Timor dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Australia melalui DFAT–ANCP.
Program ini diimplementasikan di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Sumba Barat Daya hingga tahun 2027, dengan fokus pada peningkatan kesadaran serta kesiapsiagaan anak-anak dan komunitas sekolah dasar di wilayah pesisir terhadap dampak perubahan iklim dan bencana alam.
Dalam sambutan pembukaannya, Aurum Titu Eki menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya Climate Ed-Hackathon yang dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pendidikan daerah. Ia menekankan pentingnya inovasi pembelajaran yang berangkat dari konteks dan realitas lokal.
“Melalui Climate Ed-Hackathon ini diharapkan lahir inovasi pembelajaran kesiapsiagaan yang inklusif, responsif terhadap isu GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion), serta berakar pada kearifan lokal masyarakat pesisir,” ujar Aurum.
Ia menambahkan, inisiatif ini merupakan langkah konkret dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui jalur pendidikan.
Aurum juga meyakini bahwa proses inovatif dan partisipatif yang mempertemukan guru, siswa, ilustrator, komunikator sains, serta pemangku kepentingan lokal akan menghasilkan materi pembelajaran Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (PRB-API) yang menarik, relevan, dan aplikatif di sekolah-sekolah, khususnya di wilayah rawan bencana.
Climate Ed-Hackathon ini diikuti oleh guru dan kepala sekolah dari sembilan sekolah dasar dampingan Program GenRe. Selama proses perancangan modul ajar kreatif, para peserta mendapatkan pendampingan dari panel ahli lintas sektor, mulai dari unsur pemerintah, akademisi, praktisi pendidikan, ilustrator, hingga media.
Penilaian dilakukan secara komprehensif oleh lima dewan juri dewasa yang terdiri dari para pakar, yakni DR. Marsel Robot (Undana), Norman Riwu Kaho (Undana sekaligus Ketua Forum PRB Provinsi NTT), Drs. Saryaskus Paulus Liu, M.Dev.Admin., Ph.D (Kepala BP4D Kabupaten Kupang), James Martin Abineno, SE, MM (Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang), serta Willy Fanggidae (Pegiat Isu Anak dan GEDSI).
Keunikan kompetisi ini terletak pada pelibatan juri anak yang terdiri dari dua perwakilan siswa dari masing-masing sekolah dampingan GenRe. Juri anak berperan menentukan pemenang kategori favorit berdasarkan sudut pandang peserta didik sebagai sasaran utama pembelajaran.
Hasil penilaian menetapkan lima sekolah dasar sebagai penerima penghargaan dalam kategori berbeda. SD Inpres Huilelot meraih kategori Inovasi Terbaik berkat desain pedagogis yang memudahkan siswa memahami konsep bencana.
SD GMIT Nefo memenangkan kategori Kontekstual Terbaik karena berhasil mengintegrasikan risiko lokal pesisir ke dalam materi ajar.
Kategori Visual dan Cerita Terbaik diraih SD Negeri Batuesa atas kreativitas dalam penggunaan narasi dan media pembelajaran. Sementara kategori Inklusif Terbaik, yang menekankan pendekatan ramah gender dan disabilitas (GEDSI), diraih SD Negeri Onitua.
Adapun kategori Pilihan Anak, yang ditentukan langsung oleh para siswa, dimenangkan oleh SD Inpres Sumlili.
Menutup kegiatan, Aurum Titu Eki menyampaikan apresiasi atas kerja keras dan kolaborasi seluruh pihak dalam Program GenRe. Ia berharap Climate Ed-Hackathon dapat terus memacu kreativitas dan meningkatkan kapasitas guru serta sekolah, sehingga pendidikan kesiapsiagaan bencana di Kabupaten Kupang semakin inklusif, adaptif, dan berdaya guna. (*/rnc)
