“Badai tropis 93S inilah yang berpeluang mendarat di wilayah NTT, termasuk Timor Leste, Kupang, dan wilayah sekitarnya,” ujar Erma dilansir dari CNNIndonesia.com.

Berdasarkan model prakiraan cuaca musiman, terdapat pola konvergensi kuat di perairan sekitar Indonesia. Analisis atmosfer dari Dasarian II Desember 2025 hingga Dasarian I Januari 2026 juga menunjukkan dua wilayah dengan pembentukan pusaran signifikan.

Perairan barat, seperti Samudra Hindia dan laut selatan Indonesia, menunjukkan konvergensi kuat di laut namun minim dampak langsung ke daratan. Sebaliknya, perairan timur—terutama Laut Flores, wilayah NTT, Kupang, dan Timor Leste—memiliki potensi lebih besar berkembang menjadi badai tropis atau siklon berbahaya.

“Atas dasar itu, kami mengimbau pemerintah daerah dan pihak terkait di NTT untuk melakukan langkah-langkah mitigasi sejak dini,” tegas Erma.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Bibit Siklon Tropis 93S terdeteksi aktif di selatan Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada Jumat (12/12) pukul 19.00 WIB, pusat sirkulasi bibit siklon berada di sekitar 12,0° Lintang Selatan dan 115,8° Bujur Timur.

BMKG memperkirakan dalam 24 jam ke depan intensitas Bibit Siklon Tropis 93S masih relatif persisten, tanpa peningkatan signifikan pada angin maksimum. Namun, dalam 48–72 jam berikutnya, intensitas sistem diprakirakan meningkat perlahan dengan kecepatan angin maksimum mencapai 20 knot di kuadran utara sistem, dengan pergerakan cenderung stasioner.