Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
IGNAS Kleden dalam tulisan di harian Kompas bertajuk, Tugas dan Tanggung Jawab Atas Pendidikan menulis, bahwa kemajuan suatu bangsa tak hanya ditentukan oleh Sumber Daya Alam (SDA), tetapi juga oleh Sumber Daya Manusia (SDM). Wadah dan jalan pembentukan dan penghasilan SDM itu: pendidikan. Dan dalam konteks pendidikan, istilah pengajaran dan pendidikan tak boleh dibedakan.
Pengajaran itu, dalam prosesnya, anak dilatih berpikir dan bertanya untuk memahami bagaimana pengetahuan itu disusun sesuai metode dan sistematika. Intinya, bahwa pengajaran itu berkaitan dengan proses mendapatkan pengetahuan, dan bagaimana pengetahuan mempertajam nalar, membentuk watak, dan mematangkan kepribadian, tegas beliau. Pernyataan sang pemikir itu, sebenarnya terimplisit makna, bahwa tugas dan tanggung jawab guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Mengajar dan mendidik memiliki kaitan erat.
Mendidik anak membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Guru harus belajar mengenal dan memahami anak. Untuk itu, guru perlu berhati kasih. Berhati kasih, berarti memberikan layanan yang berlandaskan pada kasih, dengan menghidupkan nilai-nilai spiritual seperti yang ditekankan oleh Muder Teresia. Nilai-nilai empati, cinta, perhatian, dan kepedulian terhadap sesama itu menjadi dasar dari pribadi guru berhati kasih. Namun, rasa empati, perhatian, kepedulian terhadap sesama, terkadang membawa masalah bagi guru. Dua guru dari SMAN Luwu Utara a.n Drs. Rasnal, M.Pd dan Drs. Abdul Muis Muharram dari Kab. Luwu Utara menjadi contoh.
Keduanya, memiliki rasa empati, perhatian dan kepedulian terhadap sesama. Atas dasar empati dan kepedulian itu, berdua berinisiatif, mengambil kebijakan melalui kesepakatan bersama orang tua dan komite sekolah memberi sumbangan RP 20.000 per anak, agar dapat menggaji ke-10 guru honorer. Sumbangan itu sukarela sifatnya. Namun, keduanya dituduh melakukan pungutan liar (pungli), untuk menggaji 10 guru honorer yang sudah 10 bulan tak menerima gaji. Akibat dari inisiatif itu, keduanya harus berurusan dengan hukum.
Beruntung, keduanya tak tinggal diam. Terus berupaya dan berusaha mencari jalan, hingga mendapat rehabilitasi dari presiden Prabowo Subianto. Itulah kisah nyata yang dialami oleh dua orang guru, yang berupaya menaburkan kasih dan kebaikan bagi sesamanya.
Dalam konteks era sekarang, era komunikasi digital ini, guru mengalami banyak tantangan. Satu tantangan nyata: bahwa anak-anak menghabiskan waktu ± 4-5 jam, untuk berselancar di media sosial. Mereka dapat berinteraksi dan mudah terhubung dengan yang lain, di berbagai tempat. Uniknya: relasi yang dibangun kian meluas, namun gaya dan pola itu menuntunnya semakin individualis. Daya peka, rasa empati dan peduli terhadap yang lain kian merendah. Kondisi itu, dikisahkan oleh seorang Ibu dari orang tua siswa saat rapat komite sekolah. “Anak sekarang, kalau sudah bermain game, facebook atau sejenisnya, bila dipanggil susah untuk menyahut,” ungkapnya.
Kisah di atas, memberi kesan bermakna bagi guru. Seorang guru, perlu menyadari bahwa peran seorang guru yang berhati kasih semakin krusial, di zaman ini. Guru itu pemimpin, yang tentu, berupaya menggerakkan orang lain mencapai tujuan tertentu. Maka, kesejahteraannya perlu diperhatikan demi rasa nyaman dan betah dalam mengajar dan mendidik. Dalam konteks itulah kedua guru di SMAN Luwu Utara menanamkan nilai kasih melalui kebijakan itu. Menurut penulis, kisah hidup kedua guru ini perlu menjadi cermin bagi setiap kepala sekolah dan guru. Itulah ungkapan empati, cinta dan kepedulian luar biasa, yang perlu diapresiasi.
Ungkapan itu menggambarkan bahwa menjadi guru yang berhati kasih memberi makna dan dampak mendalam bagi sesama guru, dan anak didik. Sekolah itu sendiri, bahkan. Relasi emosional antara guru dan anak didik menjadi meningkat, dan tentu, berdampak pada motivasi belajar dan prestasi akademik anak didik.
Jenning dan Greenberg (2009) menyatakan bahwa perhatian, dan kepedulian yang sungguh terhadap anak didik, membuatnya memiliki tingkat kehadiran yang tinggi, memiliki masalah perilaku yang rendah dan sanggup mengatasi stres. Bahkan anak yang berasal dari latar belakang yang berbeda, dengan kondisi ekonomi yang sulit, bila diberi cinta dan perhatian akan merasa diterima. Anak didik itu merasa diteguhkan. Seperti itulah yang ditekankan oleh Nodings (1984) dalam teori “caring” bahwa pendidikan moral dimulai dari caring antarguru dan siswa, untuk membentuk nilai-nilai seperti empati dan tanggung jawab sosial.
Tanpa kasih sayang, siswa akan merasa terasing, yang tentu berpengaruh pada menurunnya motivasi belajar dan meningkatnya resiko putus sekolah. Singkatnya, guru berhati kasih secara niscaya akan menciptakan situasi hidup yang harmonis, lingkungan belajar yang menyenangkan dan meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa serta membentuk anak didik menjadi pribadi yang seimbang secara sosial dan emosional. Itulah pentingnya menjadi guru berhati kasih.
Menjadi guru seperti ini bukanlah sifat bawaan, melainkan suatu prinsip hidup yang dikembangkan melalui kesadaran diri, dan komitmen hidup. Bagaimana caranya? Pertama, mendekatkan diri dengan anak didik. Lalu, mendengarkan aktif dan membangun dialog dengan anak didik, sehingga dapat menuntun anak sesuai passionnya. Mendengarkan anak didik berarti berupaya memahami, memberikan waktu kepadanya, untuk bercerita tentang keadaan pribadinya, dan meresponsnya dengan kata-kata yang menunjukkan pemahaman, sehingga berpotensi memberdayakan dirinya.
Kedua, menunjukkan kesabaran dan dukungan kepada anak didik. Guru berhati kasih, selalu memandang bahwa kesalahan anak didik menjadi kesempatan belajar baginya. Untuk itu, latihan mindfulness oleh guru penting agar dapat mengelola emosi demi merespons siswa dengan tenang dan penuh kasih. Ketiga, menciptakan lingkungan belajar yang terbuka demi tercipta budaya kolaborasi dan saling menghargai. Maka, guru perlu menggunakan kata-kata positif dan tak boleh beri stigmatisasi bagi anak didik.
Keempat, Menjaga keseimbangan antara kasih sayang dan disiplin. Artinya, perlu batasan jelas dan adil untuk membangun pemahaman anak didik. Terkait hal ini, refleksi diri guru menjadi sebuah tuntutan sebagai upaya mengevaluasi suatu tindakan. Itulah beberapa cara menjadi guru berhati kasih.
Akhirnya, menjadi guru berhati kasih di zaman ini sebuah tuntutan. Sebab itulah fondasi untuk pendidikan yang efektif dan menyenangkan. Seorang guru berhati kasih dapat menciptakan kenyamanan dan kesenangan belajar anak didik, dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dan tentu, dapat menumbuhkembangkan anak didik sesuai passion hidup.
Oleh karena itu, mari menanamkan rasa empati, cinta, perhatian dan kepedulian untuk anak didik kita, menuju masa depan nan gemilang. Bukankah kasih adalah fondasi dari semua pengajaran yang baik? Selamat hari guru untuk Bapak/Ibu Guru Hebat. (*)
