Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
IGNAS Kleden dalam tulisan di harian Kompas bertajuk, Tugas dan Tanggung Jawab Atas Pendidikan menulis, bahwa kemajuan suatu bangsa tak hanya ditentukan oleh Sumber Daya Alam (SDA), tetapi juga oleh Sumber Daya Manusia (SDM). Wadah dan jalan pembentukan dan penghasilan SDM itu: pendidikan. Dan dalam konteks pendidikan, istilah pengajaran dan pendidikan tak boleh dibedakan.
Pengajaran itu, dalam prosesnya, anak dilatih berpikir dan bertanya untuk memahami bagaimana pengetahuan itu disusun sesuai metode dan sistematika. Intinya, bahwa pengajaran itu berkaitan dengan proses mendapatkan pengetahuan, dan bagaimana pengetahuan mempertajam nalar, membentuk watak, dan mematangkan kepribadian, tegas beliau. Pernyataan sang pemikir itu, sebenarnya terimplisit makna, bahwa tugas dan tanggung jawab guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Mengajar dan mendidik memiliki kaitan erat.
Mendidik anak membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Guru harus belajar mengenal dan memahami anak. Untuk itu, guru perlu berhati kasih. Berhati kasih, berarti memberikan layanan yang berlandaskan pada kasih, dengan menghidupkan nilai-nilai spiritual seperti yang ditekankan oleh Muder Teresia. Nilai-nilai empati, cinta, perhatian, dan kepedulian terhadap sesama itu menjadi dasar dari pribadi guru berhati kasih. Namun, rasa empati, perhatian, kepedulian terhadap sesama, terkadang membawa masalah bagi guru. Dua guru dari SMAN Luwu Utara a.n Drs. Rasnal, M.Pd dan Drs. Abdul Muis Muharram dari Kab. Luwu Utara menjadi contoh.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

