Ba’a, RakyatNTT.ID Warga Kota Ba’a, Kabupaten Rote Ndao, NTT, dibuat resah oleh munculnya dugaan praktik prostitusi online yang dilakukan melalui aplikasi hijau.

Aktivitas ini disebut-sebut memanfaatkan fitur pertemanan berbasis lokasi untuk menawarkan jasa ilegal secara terselubung.

Dari hasil pantauan media ini, beberapa akun mencurigakan terlihat aktif menampilkan profil menarik serta mengajak komunikasi pribadi untuk transaksi. Fenomena ini menimbulkan keprihatinan dan kekhawatiran di tengah masyarakat.

Iklan

Media ini mencoba menelusuri aplikasi tersebut, Minggu (2/11//2025), sekira pukul 22.00 Wita. Ternyata benar, ada sejumlah akun memajang foto profile wanita cantik lengkap dengan tarif yang murah.

Dalam komunikasi dengan media ini, sebut saja Mawar, ia memasang tarif Rp300 ribu sekali kencan. ‘Pelanggan’ bisa melakukan DP Rp100 ribu saat menjemput di lokasi sesuai titik penjemputan. Setelah ditelusuri, titik penjemputan berada di salah rumah di Kelurahan Mokdale.

Selanjutnya, pada Senin (3/11/2025), sekira pukul 21.00 Wita, berdasarkan komunikasi dengan salah satu akun, sebut saja Melati, ternyata ia menggunakan metode transaksi yang sama. Kali ini titik penjemputannya di sebuah kos-kosan di Jalan Ba’a-Busalangga, tepatnya di seputaran RSUD Ba’a.

Dalam dua hari terakhir itu, tak kurang 10 orang akun yang menawarkan prostitusi online di Rote Ndao, dengan titik penjemputan yang berbeda-beda, yakni di Mokdale, Sanggoen, Toundao dan Letelangga.

Salah satu tokoh pemuda Rote Ndao, Marc Arnoldus, ketika dikonfirmasi, meminta agar Polres Rote Ndao segera menindak tegas praktik prostitusi online di Rote Ndao. Dengan demikian tidak merusak generasi muda ke depan.

“Supaya jangan jadi masalah di Rote Ndao, terutama generasi muda,” tutup Marc. (rnc)