Digitalisasi layanan juga tak boleh lagi sebatas wacana. Bank-bank daerah yang tertinggal dalam inovasi digital akan tersapu oleh layanan fintech yang semakin agresif. Direksi baru harus memastikan bahwa modernisasi sistem dan peningkatan keamanan siber berjalan cepat, terukur, dan berorientasi pengguna.

Masalah-Masalah Lama yang Masih Mengintai

Tak dapat dipungkiri, Bank NTT memiliki sejarah panjang persoalan struktural. Non Performing Loan (NPL) yang sempat tinggi adalah salah satu indikator paling jelas bagaimana manajemen risiko tidak dikelola dengan ketat.

Persoalan tersebut seharusnya menjadi lampu merah bagi direksi baru untuk tidak mengulangi pola lama, pola pemberian kredit yang longgar atau dipengaruhi faktor non-teknis.

Masalah internal lainnya seperti budaya kerja yang stagnan, relasi antarunit yang kurang solid, hingga beban administratif yang tidak efisien, harus menjadi prioritas pembenahan. Bank NTT butuh modernisasi tidak hanya dalam produk, tetapi juga dalam mentalitas organisasi.

Dan yang sering luput disebut; Bank NTT perlu memperluas pasar dan inovasi bisnis. Bank daerah yang hanya nyaman mengandalkan dana pemerintah atau kredit konsumtif tidak akan bertahan lama di era perbankan modern.

Bank Daerah Tidak Boleh jadi Arena Kekuasaan

Ingat! Bank NTT tidak boleh menjadi alat politik. Tidak dulu, tidak sekarang, dan tidak ke depan. Intervensi politik adalah racun terbesar bagi bank daerah. Ia merusak independensi manajemen, menciptakan konflik kepentingan, dan berpotensi menggagalkan arah bisnis yang sehat.