Dalam sistem seperti ini, konflik memang diminimalisir tetapi kemampuan para organisator lebih terasah pada kemampuan lobbying dan berebut mencari dukungan bahkan kemampuan menjilat daripada kemampuan berorganisasi apalagi mengasah ideologi partai.

Siapa lincah melakukan lobby, siapa mempunyai sumberdaya dan koneksi yang kuat ke pengurus pusat akan mendapat posisi yang layak. Meritokrasi menjadi bahan tertawaan, lobby, dan upeti serta menjilat menjadi mainan para elit partai.

Partai-partai seperti ini akan ketinggalan zaman. Partai seperti ini mungkin saja mempunyai anggota yang banyak, tetapi jumlahnya akan stagnan karena selalu ada yang kecewa dan meninggalkan partai. Loyalitas terhadap partai akan selalu longgar karena kekecewaan tanpa henti anggotanya akibat kekecewaan terhadap proses yang tidak demokratis dan cenderung otoriter. Hanya mereka yang terpesona pada awalnya, atau yang kebagian kekuasaan atau mereka yang gampang dimanipulasi yang bertahan menjadi anggotanya. Hal itulah yang seringkali membuat partai besar itu begitu khawatir dengan munculnya partai-partai baru yang walaupun kecil namun rapi pengorganiasiannya. Apalagi partai-partai baru menjual demokrasi dalam sistem, sturktur dan mekanisme politik mereka. Partai-partai yang tidak mereformasi diri akan senantiasa khawatir dengan partai yang walaupun kecil namun mencoba menerapkan nilai demokrasi.

Kaderisasi Mandek, Elitisme Menguat

Salah satu gejala utama dari hukum besi oligarki adalah kecenderungan organisasi untuk memutus keterlibatan aktif anggota biasa. Hal ini sangat terasa dalam partai politik Indonesia. Di mana ruang untuk kader-kader muda atau anggota biasa untuk naik secara meritokratik sangat sempit. Yang lebih dominan adalah loyalitas kepada elite, kedekatan dengan lingkar kekuasaan, atau kekuatan modal. Dalam situasi seperti akan terlihat sekali bagaimana para elit mempertahankan kekuasaan: mereka akan memilih orang-orang yang gampang diatur dan dimanipulasi, bukan orang-orang yang mampu untuk menjalankan roda organisasi di level yang lebih rendah. Padahal simpati publik terhadap partai bisa jadi besar, namun yang mereka pilih adalah mereka yang betul-betul bisa diatur dan dikuasai dengan kuasa dan modal.