Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Di kota pun keadaannya tidak jauh berbeda. Laki-laki bekerja di kantor, begitu juga perempuan. Karena itu, anggapan bahwa perempuan kodratnya hanya di dapur atau di rumah adalah keliru.
Begitu pula dengan keyakinan bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah karena ujung-ujungnya akan menikah. Pandangan semacam itu hanyalah bentuk pembodohan dan manipulasi agar perempuan tetap tertinggal.
Orang-orang yang berpikir demikian umumnya ingin agar perempuan tidak maju, cukup bekerja di kebun atau di rumah tanpa kesempatan mengembangkan diri. Mereka sering berlindung di balik kata “kodrat”, “adat”, atau bahkan “perintah Tuhan”, padahal yang sesungguhnya mereka suarakan hanyalah kepentingan dan kebodohan mereka sendiri.
Salah satu sistem yang paling kuat melanggengkan ketimpangan itu adalah patriarki. Patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dalam politik, otoritas moral, hak sosial, dan kepemilikan harta.
Sederhananya, sistem ini menguntungkan laki-laki dan merugikan perempuan. Contohnya, dalam banyak keluarga, rumah dan tanah biasanya diwariskan hanya kepada keturunan laki-laki. Sejak dalam keluarga pun sudah tertanam sistem yang menempatkan perempuan di posisi lebih rendah.
