Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
dr. Nadia mencontohkan data di beberapa kota besar yang menunjukkan kesenjangan besar antara jumlah pasien terdiagnosis dan pasien yang menjalani terapi.
Di DKI Jakarta, misalnya, Puskesmas Kembangan mencatat 337 pasien hipertensi, namun hanya 48 pasien yang menjalani pengobatan, dan 22 di antaranya kondisinya sudah terkendali.
Tren serupa juga ditemukan di Surabaya dan Semarang. Hanya Puskesmas Sidosermo Surabaya yang menunjukkan hasil lebih baik, dengan 693 pasien hipertensi semuanya menjalani terapi dan 651 pasien kondisinya terkendali.
“Gap antara yang terdiagnosis dan yang melakukan pengobatan masih tinggi di banyak kota. Ini jadi tantangan besar bagi kita,” ungkap dr. Nadia.
Tantangan: Maraknya Hoaks dan Rendahnya Kesadaran
Menurut dr. Nadia, salah satu penyebab rendahnya kepatuhan pengobatan adalah maraknya hoaks kesehatan di masyarakat.
Banyak warga yang enggan berobat karena takut obat hipertensi bisa merusak ginjal, padahal justru hipertensi yang tidak terkontrol menjadi penyebab utama gagal ginjal.
“Padahal hipertensinya sendiri yang merusak ginjal mereka. Fakta di lapangan, 40 hingga 60 persen pasien hipertensi tidak pernah kembali untuk pengobatan,” tegasnya.
Dampak Ekonomi: Pembiayaan BPJS Kesehatan Capai Rp35,3 Triliun
Deputi Direksi Bidang Kebijakan Penjaminan Manfaat BPJS Kesehatan, dr. Ari Dwi Aryani, MKM, mengungkapkan bahwa hipertensi dan diabetes melitus menjadi dua penyakit dengan beban pembiayaan tertinggi di Indonesia.
Pada tahun 2024, total pembiayaan akibat kedua penyakit tersebut mencapai Rp35,3 triliun.
