Namun, dampak negatifnya adalah potensi penurunan bobot saham Indonesia di indeks global.

MSCI ingin membuat data free float Indonesia lebih ketat dan transparan, tapi efek sampingnya bisa membuat bobot beberapa saham Indonesia di indeks MSCI turun,” jelas Liza.

Ia menambahkan, saham fisik yang belum terdigitalisasi di KSEI serta saham yang dimiliki korporasi atau institusi kemungkinan besar akan dikeluarkan dari kategori free float.

Kondisi ini bisa menurunkan rasio free float sejumlah emiten besar, terutama yang sahamnya dikuasai oleh grup usaha.

Beberapa saham berkapitalisasi besar yang disebut berisiko terdampak antara lain: CUAN, ICBP, KLBF, dan INDF.

“Penurunan bobot saham akibat revisi ini bisa memicu penyesuaian portofolio dari investor asing,” tambahnya.

Sinkron dengan Pembahasan DPR

Menariknya, wacana revisi free float oleh MSCI muncul bersamaan dengan pembahasan di DPR mengenai peningkatan porsi free float di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Dengan timing yang terasa ‘pas’ ini, somehow ide DPR terdengar tepat,” ujar Liza menutup risetnya.

Meski masih dalam tahap konsultasi, pasar tampak merespons dengan kekhawatiran tinggi. Investor berharap MSCI tetap mempertimbangkan dampak terhadap likuiditas saham dan arus modal asing ke Indonesia sebelum menerapkan kebijakan barunya. (*/rnc)