Langkah Grab dan May Mobility ini juga menimbulkan diskusi baru soal masa depan profesi sopir online, karena otomatisasi dapat mengurangi ketergantungan pada pengemudi manusia.

Kesepakatan tersebut menjadi kemitraan ketiga May Mobility dengan penyedia layanan transportasi online. Sebelumnya, May Mobility telah bekerja sama dengan Lyft untuk menghadirkan layanan robotaxi di Atlanta, AS, dan kini bersiap meluncurkannya juga di aplikasi Uber untuk wilayah Amerika Serikat.

May Mobility mengonfirmasi bahwa pihaknya akan memanfaatkan teknologi pemetaan GrabMaps, yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan peta hiper-lokal dan akurat secara real-time. Teknologi ini akan menjadi dasar bagi sistem navigasi dan keamanan penumpang robotaxi di Asia Tenggara.

Iklan

“GrabMaps akan membantu May Mobility memahami kondisi jalan di kota-kota Asia Tenggara dan meningkatkan keselamatan penumpang,” ujar perwakilan Grab.

Selain proyek ini, Grab sebelumnya juga telah bermitra dengan perusahaan robotaxi asal China, WeRide, untuk mengoperasikan shuttle otomatis di Singapura, yang dijadwalkan mulai beroperasi awal tahun depan.

Meski belum ada konfirmasi resmi, para pengamat menilai bahwa kemitraan dengan May Mobility membuka peluang masuknya robotaxi Grab ke Indonesia dalam waktu dekat — terutama jika dukungan regulasi dan infrastruktur sudah siap.