“Kalau kita lakukan perbaikan di bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan, bukan tidak mungkin sumber daya manusia Maumolo akan lebih baik ke depan. Saya berharap, akan lahir para insinyur, dokter, jaksa, pengusaha bahkan menteri dari Maumolo. Semuanya bisa dilakukan, asal ada tekad dan kemauan. Anak-anak Maumolo harus bisa,” kata Fransiscus Go.

Hal senada juga disampaikan Prof. Novri Kandowangko, dosen Universitas Negeri Gorontalo. Teman Fransiscus Go di komunitas IKASMANSA’87 yang menggelar reunian bertajuk “Karya Bakti”, di Kampung Maumolo, 3-4 Oktober 2025. “Saya sangat terkesan dengan Kampung Maumolo. Anak-anaknya cukup cerdas dan tanggap. Terlihat waktu mereka antusias menjawab kuis. Salut kepada Pak Frans bersama yayasannya, mau memberdayakan masyarakat Maumolo,” imbuh Prof. Novri.

Sekedar tahu; Kampung Maumolo terletak di Kelurahan Bansone, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kampung ini dihuni sekira 900 kepala keluarga, dengan mayoritas masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Meski berada di wilayah perkotaan Kefamenanu, Maumolo masih menghadapi masalah sosial-ekonomi. Banyak keluarga masuk kategori miskin. Dipengaruhi faktor pendidikan, lapangan kerja terbatas, serta jumlah tanggungan keluarga yang tinggi. Dahulu, Maumolo dikenal sebagai salah satu sentra sayur-mayur yang memasok kebutuhan warga di Kota Kefamenanu.