Jakarta, RakyatNTT.ID Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai gagal memberikan jaminan gizi sehat bagi anak-anak sekolah.

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mendesak Presiden Prabowo Subianto segera menghentikan program tersebut untuk dilakukan evaluasi total.

Sejak diluncurkan pada Januari 2025, MBG tercatat memicu 5.626 kasus keracunan di 17 provinsi. Beberapa di antaranya bahkan ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) karena melibatkan ratusan siswa dan melumpuhkan aktivitas belajar.

Kritik CISDI terhadap Program MBG

Founder sekaligus CEO CISDI, Diah Saminarsih, menegaskan MBG dijalankan terburu-buru tanpa tata kelola jelas.

“Pangkal persoalan program makan bergizi gratis adalah ambisi pemerintah menargetkan 82,9 juta penerima manfaat pada akhir 2025,” kata Diah, Sabtu (20/9/2025).

Menurutnya, demi mengejar target masif tersebut, program dilaksanakan tergesa-gesa sehingga kualitas penyediaan makanan hingga distribusinya tidak tertata dengan baik.

Risiko Gizi dan Obesitas

Selain keracunan, CISDI menyoroti menu MBG yang banyak berisi pangan ultra proses tinggi gula, garam, dan lemak.

“Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu obesitas pada anak dan remaja. Efeknya justru kontraproduktif dengan tujuan awal MBG yaitu memperbaiki status gizi anak Indonesia,” tegas Diah.

Minimnya Regulasi dan Pengawasan

Diah juga menilai absennya payung hukum dan panduan teknis MBG serta lemahnya sistem pengawasan memicu persoalan di lapangan. Kondisi ini disebut sebagai bentuk pelanggaran hak anak sebagai penerima manfaat program.

Desakan Moratorium MBG

CISDI meminta pemerintah segera memoratorium program MBG agar evaluasi menyeluruh dapat dilakukan.