Dalam tiga hari pertama, kelompoknya berhasil memetakan kebutuhan masyarakat, khususnya di sektor pertanian seperti kebutuhan akan penyuluhan, benih, dan teknik pengolahan.

Lurah Lambanapu, Naomi Takandunu, memberi apresiasi tinggi. “Mereka responsif, punya akhlak baik, dan langsung menyusun program kerja secara proaktif sejak awal,” ujarnya.

Mahasiswa KKN ini memiliki latar belakang keilmuan yang beragam—dari teknik sipil hingga psikologi—yang diharapkan bisa diintegrasikan dalam program seperti pembangunan rabat jalan, pemberdayaan Posyandu, dan penanganan stunting.

Iklan

Suara Harapan dari Desa dan Kelurahan Lainnya

Plt. Lurah Malumbi, Elias Retang Wahangara, menilai kehadiran mahasiswa sebagai “semangat baru” yang dapat menjawab persoalan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warganya.

Kepala Desa Kuta, Ngiru Talumeha, menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam promosi potensi wisata lokal. Ia juga berharap dukungan mahasiswa hukum untuk menyusun peraturan desa tentang penambangan pasir dan pengelolaan ternak.

Sementara itu, di Desa Hambapraing, Kepala Desa Retang Pekuali berharap besar pada kontribusi mahasiswa. Desa ini memiliki indeks pendidikan rendah dan potensi pertanian seperti sorgum dan kacang tanah yang belum tergarap maksimal. Retang bahkan ingin menjadikan desanya sebagai lokasi KKN tahunan Undana.

DPL Undana: KKN Sebagai Jembatan Ilmu dan Realita

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Undana di Sumba Timur, Ir. Dominggus Benyamin Osa, MP, menjelaskan bahwa program ini adalah sarana mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat, mengenal karakter lokal, serta memetakan potensi dan persoalan desa.