Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Musik gong dan sasando menambah nuansa magis, menyatukan suara alam dengan lantunan rohani. Tarian Foti menggambarkan sukacita, harmoni, dan solidaritas komunitas.
Di luar arena, masyarakat dengan sukarela membuka rumah-rumah mereka bagi siapa pun yang datang. Makanan dan minuman tradisional disajikan tanpa dipungut biaya. Tidak ada tiket, tidak ada meja VIP semuanya setara dalam ruang budaya yang egaliter. Spiritualitas dalam HUS tak hanya mengalir dalam doa-doa adat, tetapi juga dalam laku keramahan yang melampaui batas suku, agama, dan status sosial.
Warisan dan Tantangan
Warisan ini kini dihidupkan kembali melalui Festival HUS Nde’o Kabupaten Rote Ndao 2025 yang akan berlangsung di Desa Tasilo, Kecamatan Loaholu. Dengan dukungan pemerintah melalui program ROCKET (Rote Kreatif dan Terang), Festival ini diharapkan bukan hanya menjadi destinasi budaya, tetapi juga menjadi panggung edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan nilai-nilai leluhur.
Namun, ancaman globalisasi, komersialisasi budaya, dan kelangkaan regenerasi pemangku adat menjadi tantangan nyata. Oleh karena itu, perlu ada sinergi antara pemerintah, gereja, lembaga pendidikan, dan masyarakat adat untuk menjadikan HUS sebagai bagian dari kurikulum lokal dan program pelestarian budaya berbasis iman.
Simfoni Syukur dari Timur Indonesia
Dalam pandangan teologis kontekstual, HUS adalah bentuk liturgi rakyat yang mengakar dalam budaya dan menyentuh langit. Ini sejalan dengan pandangan teolog Don Richardson dalam bukunya “Peace Child”, bahwa di setiap budaya terdapat benih-benih kebenaran Allah. HUS, dalam konteks ini, adalah “benih Allah” di tanah Rote yang perlu dimaknai secara lebih dalam oleh gereja dan masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan