Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ba’a, RNC – Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Sakti Wahyu Trenggono mengunjungi Kabupaten Rote Ndao untuk meninjau lahan pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (3/6/2025).
Pantauan RakyatNTT.ID, Trenggono didampingi Anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin dan Gubernur NTT, Melki Laka Lena serta rombongan tiba di Kawasan Sentra Industri Garam Zona 1 di Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko sekira pukul 10.30 Wita. Kedatangan mereka disambut dengan tuturan adat dan tarian adat Tari Lilete.
Pada Kick Off Pembangunan K-SIGN itu, Trenggono mengatakan Rote Ndao berpotensi menjadi pusat produksi garam industri nasional karena letak geografisnya yang sejajar dengan Australia. Australia sendiri merupakan salah satu penghasil garam terbesar di dunia.
“Kita akan segera menuju swasembada garam dan ini alhamdulillah sangat lancar dalam mencari lokasi. Kita bisa mendapatkan satu lokasi yang sangat bagus, ada danau, laut yang kita temukan cukup luas dan sudah kita uji salinitasnya cukup bagus,” ujar Trenggono.
“Kita meyakini ini adalah setara dengan Dampier, setara dengan Australia dan kalau kita tarik garis lurus sama ini satu daerah,” tambahnya.
Rencana pengembangan K-SIGN ini terdiri dari 10 zona yang dibagi berdasarkan kondisi topografi dan morfologi Kabupaten Rote Ndao. Pembangunan akan dilakukan bertahap yakni tahap 1 seluas 1.193 Ha (2025), tahap 2 seluas 9.541 Ha (2026) dan tahap 3 seluas 3.135 Ha (2027).
Untuk produksi, ditargetkan dapat memproduksi garam 200 ton per hektar per tahun. Secara keseluruhan volume produksi targetnya 2,6 juta ton per tahun dengan nilai produksi Rp 2,6 triliun per tahun.
“Pembangunan (tahap 1) tahun ini (2025) harusnya selesai sehingga awal 2026 harus sudah produksi,” kata Trenggono optimis.
Tidak hanya ditargetkan dapat mencapai swasembada garam nasional, tambak garam terbesar ini juga diharapkan bisa menciptakan potensi lapangan pekerjaan bagi puluhan ribu orang, dari hulu hingga hilir.
Program K-SiGN ini juga akan menggandeng PT. Garam yang berfungsi di hilir dalam memproduksi garam industri, di antaranya industri aneka kebutuhan pangan, industri farmasi dan industri Chlor Alkali Plant (CAP).
“Kan di situ ada nanti processing untuk industri aneka pangan, processing untuk industri farmasi, ada processing untuk CAP, PT. Garam harus berperan ke sana. Di sisi lain juga nanti kita serahkan yang dibangun pemerintah tentu tidak bisa sebagai pelaku,” imbuhnya.
Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, kini bersiap menorehkan sejarah baru sebagai pusat produksi garam nasional. Anggaran fantastis untuk Proyek K-SIGN ini yakni sebesar Rp2 triliun. Proyek strategis ini tidak hanya menghadirkan harapan baru bagi puluhan ribu warga Rote Ndao, tetapi juga diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.
K-SIGN dirancang menyerap sekitar 26.600 tenaga kerja langsung dan memberi efek ganda bagi lebih dari 50.000 orang, mulai dari nelayan, pedagang, hingga pelaku usaha kecil lainnya. (rnc12)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan