“Kalau harga minyak mentah naik, harga Pertamax dan BBM non-subsidi lain pasti ikut naik,” jelas Fahmy.

Sementara itu, untuk BBM subsidi seperti Pertalite, ia menyarankan pemerintah menahan kenaikan harga demi menjaga inflasi dan daya beli masyarakat.

Namun jika harga minyak sudah melampaui US$ 100 per barel, pemerintah dinilai harus menyesuaikan harga BBM subsidi untuk menjaga kestabilan APBN.

Asumsi APBN dan Pandangan Ekonom

Menurut peneliti ekonomi Yusuf Rendy Manilet dari CORE Indonesia, harga minyak saat ini masih berada di level US$ 73-75 per barel, di bawah asumsi APBN 2025 sebesar US$ 82.

“Selama harga belum melewati US$ 82 per barel, tidak perlu ada penyesuaian harga BBM subsidi,” ujar Yusuf.

Namun jika harga melewati batas tersebut, meski belum sampai US$ 100, penyesuaian tetap perlu dilakukan.

Efek ke APBN dan Masyarakat Rentan

Bhima Yudhistira, Direktur CELIOS, menekankan pentingnya revisi kebijakan anggaran jika subsidi melebar akibat harga minyak melonjak. Ia juga mendorong langkah konkret seperti bantuan sosial tambahan untuk melindungi kelompok rentan.

“Jika subsidi BBM membengkak sementara penerimaan negara lemah, defisit APBN bisa meningkat,” ungkap Bhima.

Ia menekankan perlunya penghematan dengan cara mengarahkan masyarakat untuk beralih ke transportasi publik, serta memastikan bansos diperluas bila harga BBM subsidi harus disesuaikan. (*/rnc)