Jakarta, RakyatNTT.ID Pemerintah tancap gas untuk menyalurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada 82,9 juta penerima manfaat. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menyampaikan bahwa untuk merealisasikan target tersebut, pemerintah resmi menaikkan anggaran MBG sebesar Rp 50 triliun, sehingga total anggaran tahun ini menjadi Rp 121 triliun.

“Setelah ini kita gas untuk mencapai 82,9 juta penerima manfaat dengan anggaran sebesar Rp 121 triliun,” ujar Zulhas dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan, Kamis (26/6/2026).

Anggaran Ditingkatkan, Realisasi Baru 5 Juta Lebih

Meski targetnya ambisius, realisasi di lapangan saat ini baru menyentuh 5.560.648 penerima, dengan dukungan dari 1.861 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hingga pertengahan 2026, anggaran yang terserap baru sekitar Rp 5 triliun.

Untuk mendorong percepatan penyaluran MBG, pemerintah juga sedang menyusun Peraturan Presiden (Perpres) yang ditargetkan rampung dalam pekan ini.

“Hari ini kami rapat. Perpres mudah-mudahan minggu ini selesai. Setelah itu langsung kita percepat pelaksanaan,” tambah Zulhas.

Strategi Percepatan: Manfaatkan Dapur Sekolah dan Pondok Pesantren

Salah satu langkah percepatan penyaluran MBG adalah dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada, khususnya dapur sekolah dan pondok pesantren. Rencana ini dinilai efektif untuk mempercepat distribusi makanan bergizi tanpa harus membangun fasilitas baru dari nol.

“Kemungkinan kita pakai dapur sekolah, pondok pesantren juga bisa kita manfaatkan,” terang Zulhas.

Tindak Lanjut Arahan Presiden Prabowo

Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya pemerataan gizi untuk anak-anak Indonesia, terutama dalam rangka membangun generasi sehat dan produktif di masa depan.

Dengan penambahan anggaran dan percepatan regulasi lewat Perpres, pemerintah menunjukkan komitmen serius dalam menyukseskan program Makan Bergizi Gratis sebagai bagian dari agenda nasional. Target 82,9 juta penerima bukan sekadar angka, tapi bagian dari strategi besar menuju Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing global. (*/rnc)