BAGI sebagian besar mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), matematika bukan mata kuliah yang dinanti. Bahkan, bagi banyak dari mereka, mata kuliah ini menjadi beban mental tersendiri. Ketika materi geometri muncul, tidak sedikit yang gelisah, bahkan menyerah sebelum mencoba. Lalu, bagaimana mungkin calon guru yang enggan dengan matematika dapat mewariskan semangat belajar kepada muridnya nanti?

Ini bukan sekadar asumsi, melainkan realitas yang saya temukan dalam perkuliahan dan saya teliti secara sistematis. Hasilnya? Ada satu strategi pembelajaran yang terbukti dapat membalikkan ketakutan menjadi keberanian: strategi REACT.

Kita Punya Masalah Serius

Bukan rahasia lagi bahwa kemampuan matematika siswa Indonesia masih jauh dari ideal. Hasil survei PISA 2018 menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-73 dari 79 negara peserta dalam literasi matematika. Skor rendah ini bukan hanya soal siswa yang tak paham rumus, tapi cerminan dari sistem pembelajaran yang lemah secara konseptual dan tidak kontekstual.

Apa yang terjadi di bangku sekolah hari ini, sesungguhnya dimulai dari bangku kuliah kemarin. Ketika mahasiswa PGSD calon guru SD tidak memiliki kepercayaan diri dalam menyelesaikan masalah matematika, maka kita sedang mereproduksi ketakutan yang sama pada generasi berikutnya.
Berdasarkan pengalaman lapangan, banyak mahasiswa PGSD hanya unggul pada soal-soal prosedural, tetapi gagal saat dihadapkan dengan soal-soal pemecahan masalah yang membutuhkan penalaran dan koneksi antarkonsep. Mereka bisa menjawab soal “berapa hasil dari 3×4”, tetapi kesulitan ketika harus menyelesaikan soal kontekstual tentang luas lahan atau pola bangun ruang.

Padahal, menurut (NCTM), pemecahan masalah adalah jantung dari pembelajaran matematika. Tanpa itu, matematika akan terasa hampa: hanya hafalan rumus tanpa makna.

Strategi REACT: Dari Hafalan ke Pemahaman

Saya melakukan penelitian kuasi-eksperimental terhadap 105 mahasiswa PGSD Universitas Citra Bangsa Kupang. Separuh dari mereka mengikuti pembelajaran matematika secara konvensional. Separuh lainnya menggunakan pendekatan REACT: Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring.

  • Relating: mahasiswa diajak mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari
  • Experiencing: mereka mengalami sendiri proses pembelajaran melalui eksplorasi
  • Applying: mereka menerapkan konsep dalam soal-soal kontekstual
  • Cooperating: mereka belajar bekerja sama dalam menyelesaikan masalah
  • Transferring: mereka menggunakan pengetahuan yang diperoleh dalam situasi baru

Hasilnya sangat signifikan. Berdasarkan uji statistik (independent sample t-test), nilai signifikansi sebesar 0,015 < 0,05, yang menunjukkan bahwa strategi REACT berpengaruh secara positif dan nyata terhadap kemampuan pemecahan masalah mahasiswa.

Lebih dari sekadar angka, saya melihat sendiri bagaimana atmosfer kelas berubah. Mahasiswa yang biasanya pasif mulai aktif berdiskusi. Mereka tidak lagi takut salah, tapi justru bersemangat mencari solusi. Ruang kelas bukan lagi tempat menghafal rumus, melainkan ruang eksplorasi dan pemaknaan.

Mengapa Strategi Ini Bekerja?

Strategi REACT efektif karena menyentuh dua aspek penting dalam pembelajaran: emosi dan makna. Ketika mahasiswa bisa mengaitkan materi dengan kehidupannya (misalnya menghitung luas dinding rumah atau membagi roti untuk keluarga), maka matematika tidak lagi abstrak. Ketika mereka bekerja sama menyelesaikan soal, diskusi menjadi alat belajar, bukan alat kompetisi.

Ini sejalan dengan riset-riset terdahulu. Marlisa dan Widjajanti (2015) menemukan bahwa strategi REACT meningkatkan apresiasi siswa terhadap matematika. Hasanah dkk. (2019) juga membuktikan bahwa pendekatan ini memengaruhi kemampuan komunikasi dan pemahaman matematis.
Dengan kata lain, REACT bukan metode baru yang “asal beda”, tapi pendekatan yang didesain dengan cermat berdasarkan prinsip pedagogi yang terbukti.

Saatnya Kita Bergerak

Pertanyaannya: mengapa pendekatan seperti ini belum digunakan secara luas di kampus-kampus pendidikan guru?

Masalahnya seringkali bukan pada kemauan dosen, tapi pada sistem pembelajaran yang terlalu terfokus pada silabus dan target penyelesaian materi. Akibatnya, yang diajarkan adalah isi, bukan cara berpikir.
Untuk itu, saya ingin mengajak para dosen pendidikan guru—khususnya di NTT—untuk mulai mempertimbangkan strategi pembelajaran yang menekankan pada konstruksi pengetahuan dan pemecahan masalah. Karena sejatinya, tugas kita bukan hanya meluluskan mahasiswa, tetapi membentuk guru masa depan.

Selain itu, institusi perguruan tinggi juga perlu memberi ruang inovasi lebih luas bagi dosen. Bentuknya bisa berupa pelatihan strategi pembelajaran, forum diskusi dosen lintas mata kuliah, hingga kebijakan yang mendukung riset-riset kelas kecil yang aplikatif.

Tidak Butuh Biaya Besar, Hanya Kemauan Besar

Satu hal yang perlu digarisbawahi: strategi REACT tidak memerlukan teknologi canggih atau anggaran mahal. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk merancang pembelajaran yang kontekstual dan dialogis. Buku catatan, papan tulis, dan soal yang relevan sudah cukup.

Dan hasilnya bukan hanya soal peningkatan skor, tetapi transformasi cara pandang mahasiswa terhadap matematika dan perannya sebagai calon pendidik.

Penutup: Kita Tidak Bisa Mengajar yang Tidak Kita Kuasai

Calon guru yang takut pada matematika, akan mencetak murid yang alergi terhadap logika. Karena itu, sebelum berharap siswa SD senang berhitung, mari pastikan dulu guru mereka menyukai, memahami, dan percaya diri dalam mengajarkannya.

Strategi pembelajaran REACT bukan obat segala masalah, tapi bisa menjadi salah satu cara untuk memutus rantai ketakutan yang diwariskan turun-temurun terhadap matematika. Karena pendidikan dasar yang kuat dimulai dari kampus guru yang berani berubah. (*)