Karenanya, Kurikulum Merdeka bukan sekadar kurikulum, melainkan ujian keberpihakan: apakah kita benar-benar berpihak pada guru dan murid?
Jika ingin transformasi pendidikan sungguh terjadi, dengarkan suara mereka yang ada di kelas setiap hari. Bebaskan mereka dari beban-beban yang tidak perlu, dan beri mereka senjata untuk membentuk generasi masa depan. Bukan sekadar janji manis, tapi dukungan nyata.

Dan sebagai penutup, mari kita renungkan pesan dari Albert Einstein:
“It is the supreme art of the teacher to awaken joy in creative expression and knowledge.”
(“Mengajar adalah seni tertinggi: membangkitkan kegembiraan dalam berekspresi dan belajar.”)

Semoga Kurikulum Merdeka tidak hanya memberi ruang belajar yang bebas, tapi juga menciptakan ruang batin yang merdeka bagi guru dan murid Indonesia. (*)