Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
NUSA Tenggara Timur (NTT) tidak pernah kekurangan pesona. Dari ujung Labuan Bajo hingga pesisir Timor, kekayaan budaya, khususnya tenun ikat, adalah identitas yang tak ternilai.Tenun bukan sekadar kain. Ia adalah cerita tentang identitas, kerja keras, dan warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Dari tangan-tangan perempuan di desa, lahir motif yang menyimpan makna, sekaligus menjadi sumber kebutuhan sehari-hari,untuk menghidupi keluarga. Namun, di era digital 2026 ini, pertanyaan besarnya adalah: sejauh mana tenun dan produk lokal kita mampu beradaptasi?
Selama ini, sebagian besar pelaku UMKM tenun masih mengandalkan cara-cara tradisional dalam memasarkan produknya.
Penjualan dilakukan dari mulut ke mulut atau menunggu pembeli datang langsung. Pasar menjadi terbatas, sementara persaingan dari produk tekstil pabrikan semakin kuat. Di sisi lain, peluang pasar justru semakin terbuka lebar melalui platform digital. Media sosial, marketplace, hingga promosi berbasis konten menawarkan akses yang jauh lebih luas, bahkan hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Di sinilah pentingnya digitalisasi UMKM. Bagi pelaku usaha tenun, digitalisasi bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan. Dengan memanfaatkan teknologi, produk tenun dari desa bisa dikenal lebih luas, dihargai lebih layak, dan memiliki daya saing yang lebih kuat. Foto produk yang menarik, cerita di balik motif, hingga strategi pemasaran yang tepat dapat meningkatkan nilai jual secara signifikan.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

