Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu. Banyak pelaku UMKM di NTT masih menghadapi keterbatasan akses internet, rendahnya literasi digital, serta minimnya pendampingan. Tidak sedikit yang merasa asing dengan penggunaan marketplace atau media sosial sebagai alat bisnis. Akibatnya, potensi besar yang dimiliki justru belum dimanfaatkan secara maksimal.

Pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait perlu melihat ini sebagai peluang sekaligus tantangan. Program pelatihan digital bagi UMKM harus lebih tepat sasaran dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial. Pendampingan langsung, penyediaan akses internet yang memadai, hingga kolaborasi dengan anak muda yang melek teknologi bisa menjadi langkah konkret untuk mendorong transformasi ini.

Di sisi lain, generasi muda NTT memiliki peran strategis. Mereka bisa menjadi jembatan antara tradisi dan teknologi. Anak muda tidak harus meninggalkan daerah untuk berkembang; justru dengan memanfaatkan keterampilan digital, mereka dapat membantu mengangkat produk lokal ke pasar yang lebih luas. Kolaborasi antara penenun dan generasi muda bisa melahirkan model usaha baru yang lebih inovatif tanpa meninggalkan akar budaya.

Iklan

Lebih dari sekadar bisnis, digitalisasi tenun adalah upaya untuk menjaga keberlanjutan budaya. Jika tenun tidak mampu mengikuti perkembangan zaman, maka ia berisiko ditinggalkan. Sebaliknya, jika berhasil beradaptasi, tenun NTT tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai identitas yang membanggakan sekaligus sumber ekonomi yang menjanjikan.