Jakarta, RakyatNTT.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi stunting dan penopang generasi emas Indonesia kini berada di bawah sorotan tajam.

Riset terbaru dari Policy Research Center (Porec) pada Maret 2026 mengungkap krisis kepercayaan publik yang serius terhadap program tersebut.

Dilansir dari SumbarSatu.com, dalam laporan berjudul “Siapa yang Diuntungkan dari Program Makan Bergizi Gratis?”, Porec menyoroti lonjakan anggaran MBG dari Rp171 triliun pada 2025 menjadi Rp335 triliun dalam APBN 2026. Namun, peningkatan anggaran tersebut dinilai tidak sejalan dengan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Iklan

Mayoritas Warga Nilai Rawan Korupsi

Riset yang melibatkan 1.168 responden secara nasional ini menunjukkan hasil mencengangkan. Sebanyak 80,4 persen responden merupakan penerima langsung atau keluarga penerima manfaat MBG.

Hasilnya, 87 persen responden menyatakan program ini sangat rawan dikorupsi. Bahkan, hampir sembilan dari sepuluh warga meyakini adanya potensi penyimpangan dalam pengelolaan program.

Selain itu, 88 persen responden menilai manfaat MBG lebih banyak dinikmati oleh elit politik dan pengelola dapur dibandingkan kelompok sasaran utama seperti anak-anak sekolah dan ibu hamil.

Ketimpangan Manfaat Dinilai Nyata

Secara lebih rinci, survei menunjukkan 88,5 persen warga menilai keuntungan terbesar program mengalir ke elit politik (44,5 persen) dan mitra pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebesar 44,0 persen.