Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Oleh: Tommy Aquino*
Cerita ini pernah saya bagikan pada 9 Mei 2024, bertepatan dengan momen penahbisan Mgr. Hironimus Pakaenoni sebagai Uskup Keuskupan Agung Kupang.
Hari ini, saya kembali menuliskannya. Bukan sekadar untuk mengulang sebuah cerita lama, tetapi karena salah satu tokoh dalam kisah ini telah lebih dahulu pergi. Dia adalah sahabat saya, RD Yakobus Longga, Pr yang akrab disapa Romo Yallo.
Semakin dikenang, kisah ini terasa semakin dalam. Sebab, di balik lembaran-lembaran skripsi yang pernah beterbangan itu, ternyata ada sebuah perjalanan panggilan yang nyaris berhenti di sebuah ruang ujian.
Sekitar medio 2011, Yallo yang saat itu masih berstatus sebagai calon imam Keuskupan Agung Kupang, menjalani ujian skripsi. Saya sendiri sedang berada dalam antrean untuk menjalani ujian. Status saya ketika itu sudah extern atau bekas Frater.
Saya wajib hadir dalam ujian Yallo karena kami mengangkat tema yang memiliki irisan yang cukup dekat: Hukum Perkawinan Gereja Katolik.
Saya menulis tentang ketentuan halangan perkawinan menurut Kitab Hukum Kanonik (KHK), yang kemudian saya komparasikan dengan hukum adat tentang La’a Sala dalam perspektif budaya orang Ngadha.
Sementara Yallo, sejauh yang saya ingat, mengangkat tema tentang halangan atau larangan Komuni bagi pasangan suami-istri Katolik. Mohon maaf, Yallo, kalau ingatan saya tentang judul persisnya tidak lagi sempurna.
Karena sama-sama mengangkat tema hukum Gereja, kami dibimbing oleh Romo Drs. John Subani, Lic. Iur. Can., seorang imam yang memiliki kepakaran di bidang Hukum Kanonik. Bedanya, kami memiliki pembimbing kedua dan penguji yang berbeda.
Hari itu, Yallo duduk di hadapan tiga dosen penguji. Dua diantaranya merupakan dosen pembimbing. Salah satunya adalah Romo Hironimus Pakaenoni, yang hari ini kita kenal sebagai Uskup Keuskupan Agung Kupang.
Untuk membantu jalannya sidang, Yallo mempercayakan Frater Kristo Ngasi, teman seangkatan yang kini menjadi imam di Keuskupan Weetebula, sebagai moderator.
Pada awalnya, semuanya berjalan biasa saja. Yallo yang saya kenal sebagai Juventini garis keras itu tampil percaya diri. Pertanyaan demi pertanyaan dijawabnya. Sidang pun perlahan mendekati akhir.
Saya kira semuanya akan selesai dengan tenang. Ternyata tidak. Di penghujung sidang, Romo Roni kembali mengoreksi bagian awal skripsi Yallo, khususnya judul. Ada saran untuk menambahkan tanda baca agar judul tersebut tidak menimbulkan makna yang ambigu. Namun, Romo John sebagai pembimbing utama memiliki pandangan berbeda. Koreksi itu diperdebatkan.
Dua imam yang sama-sama pernah menimba ilmu di Roma itu mulai terlibat dalam perdebatan yang semakin serius.
Suasana yang tadinya adem mendadak berubah. Nada bicara meninggi. Argumen berbalas argumen. Hingga pada satu titik, lembaran-lembaran skripsi Yallo beterbangan.
Ruangan mendadak sunyi. Kami yang berada di sana hanya bisa diam dan menyaksikan perdebatan dua imam dengan kepakaran dan pandangan yang berbeda.
Lalu terdengar pernyataan tegas: nilai tidak akan diberikan. Di titik itulah, mungkin hanya Yallo yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam hatinya.
TOP -Tahun Orientasi Pastoral- sudah di depan mata. Tetapi nilai ujian skripsi belum ada. Dan tanpa nilai itu, jalan menuju tahap berikutnya tentu menjadi tanda tanya.
Bagi sebagian orang, mungkin situasi seperti itu sudah cukup untuk menyerah. Menanggalkan jubah. Pulang. Mengakhiri semuanya. Tetapi Yallo tidak memilih jalan itu. Dia tetap tenang. Tetap bertahan dan akhirnya, nilai itu diberikan.
Sebagai teman yang sama-sama memiliki darah Lio Ende, saya tentu bersyukur mengetahui Yallo akhirnya mendapatkan nilai. Sebab, saya tahu, kalau saat itu Yallo tidak mendapatkan nilai, mungkin jalan yang pernah lebih dahulu saya lalui akan kembali dilalui olehnya.
Tuhan memang punya cara-Nya sendiri. Kadang-kadang, sebuah panggilan tidak berjalan lurus seperti yang kita bayangkan. Ada ujian. Ada keraguan. Ada perdebatan. Bahkan ada saat ketika beberapa lembar skripsi beterbangan dan masa depan terasa seperti berada di ujung tanduk.
Namun, justru di tengah ketidakpastian itulah seseorang bisa menemukan bahwa panggilan bukan sekadar tentang seberapa mulus jalan yang dilalui. Panggilan adalah tentang bertahan ketika jalan itu terasa berat.
Hari ini, Yallo sudah tidak bersama kita. Karena itu, ketika cerita ini kembali saya bagikan, rasanya bukan lagi sekadar nostalgia tentang sebuah ujian skripsi belasan tahun lalu.
Ini adalah kenangan tentang seorang teman. Tentang seorang Frater yang pernah berdiri di persimpangan. Tentang sebuah panggilan yang hampir saja terhenti, tetapi akhirnya terus berjalan. Dan tentang seorang imam yang kini telah menyelesaikan perjalanan panjangnya.
Yallo, mungkin lembaran skripsimu pernah beterbangan di ruangan itu. Tetapi ternyata, panggilanmu tidak ikut beterbangan. Ia tetap tinggal. Ia bertahan dan akhirnya membawamu menjadi seorang imam.
Selamat jalan, Romo Yallo. Terima kasih pernah menjadi bagian dari cerita kami. Semoga kini engkau beristirahat dalam damai, setelah menyelesaikan perjalanan panggilanmu. (*)
* Penulis ada teman seangkatan Alm. Romo Yallo di Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandira Kupang (2007-2011)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan