So’E, RakyatNTT.ID – Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) resmi menggelar Festival Budaya TTS Tahun 2026 sebagai upaya merawat warisan leluhur sekaligus memperkuat identitas budaya generasi muda.

Festival yang mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Identitas, Membangun Generasi Muda Berbudaya” itu dipusatkan di Jalan Basuki Rahmat, tepat di depan Lapangan Puspen SoE, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan berlangsung selama 10 hari, mulai 20 hingga 29 Oktober 2026, dan melibatkan 236 peserta tingkat SD dan SMP dari berbagai wilayah di Kabupaten TTS.

Festival tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati TTS Eduard Markus Lioe, S.H., M.H., disaksikan Ketua DPRD TTS, unsur Forkopimda, Penjabat Sekretaris Daerah, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan NTT, Balai Bahasa NTT, kepala sekolah, tokoh adat, seniman, budayawan, peserta didik, orang tua, serta masyarakat.

Tarian Kolosal dan Monolog Buka Festival

Pembukaan Festival Budaya TTS 2026 berlangsung meriah. Penampilan tarian kolosal dan monolog bertajuk perjuangan pahlawan oleh siswa-siswi SMA Garuda Nusantara menjadi salah satu pertunjukan pembuka yang mendapat sambutan antusias masyarakat.

Pertunjukan tersebut mengangkat kisah perjuangan para pahlawan yang gugur di medan perang sekaligus menjadi gambaran bagaimana generasi muda dapat mengambil bagian dalam menjaga nilai sejarah dan budaya daerah.

Ketua Panitia Festival Budaya TTS 2026, Okran K.R. Betty, S.Hut., menjelaskan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus apresiasi terhadap kekayaan budaya lokal.

Menurutnya, festival tidak hanya bertujuan memberikan hiburan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen untuk menjaga agar nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap dikenal dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Festival juga diharapkan dapat memperkuat persatuan dan kesatuan, meningkatkan daya tarik pariwisata, mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, serta menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya TTS.

236 Pelajar Ikuti Beragam Lomba Budaya

Sebanyak 236 peserta ambil bagian dalam berbagai perlombaan seni dan budaya yang diperuntukkan bagi pelajar SD dan SMP.

Sejumlah mata lomba yang digelar antara lain Tarian Telsain, Tarian Bonet, Tarian Maekat, tarian kreasi, serta komedi tunggal atau stand-up comedy menggunakan bahasa Dawan.

Keterlibatan pelajar dalam festival tersebut menjadi bagian penting dari strategi regenerasi budaya. Generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam mempraktikkan seni tradisional dan bahasa daerah.

Panitia berharap kegiatan ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap budaya lokal, melestarikan warisan leluhur, mempererat persatuan dalam keberagaman, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan minat dan bakat di bidang seni budaya.

Penyelenggaraan festival juga mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan serta Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017.

Bupati TTS: Jangan Malu Jadi Atoin Meto

Dalam sambutannya, Bupati TTS Eduard Markus Lioe menegaskan bahwa Festival Budaya TTS bukan sekadar seremoni atau tontonan hiburan.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen bersama untuk menjaga tradisi, memperkuat identitas, sekaligus menyiapkan generasi muda yang tetap berakar pada budaya daerah di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi.

“Festival budaya daerah yang kita selenggarakan pada hari ini bukanlah sekadar sebuah seremoni atau tontonan hiburan semata. Lebih dari itu, festival ini adalah wujud nyata dari komitmen kita bersama untuk merawat tradisi, menguatkan identitas dan membangun generasi muda berbudaya. Budaya adalah jiwa kita. Jika budaya hilang, maka hilang pula identitas kita,” tegas Bupati yang akrab disapa Buce tersebut.

Bupati kemudian menyampaikan tiga pesan utama kepada masyarakat TTS.

1. Merawat Tradisi

Buce mengajak masyarakat TTS untuk bangga dengan identitas daerah dan tidak malu menunjukkan jati diri sebagai orang TTS.

Ia mendorong masyarakat untuk terus menggunakan kain tenun, mempelajari dan menampilkan tarian adat, serta mempertahankan penggunaan bahasa daerah.

“Jangan malu menggunakan kain tenun, jangan malu menari tarian adat, jangan malu berbahasa daerah. Tradisi adalah kekuatan kita. Pemerintah Kabupaten TTS akan terus memberikan ruang dan dukungan bagi pelestarian budaya lokal,” ujarnya.

2. Menguatkan Identitas Budaya

Menurut Buce, budaya tidak hanya berkaitan dengan identitas, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar.

Identitas budaya TTS, termasuk kain tenun ikat, dapat menjadi modal pembangunan sekaligus kekuatan ekonomi masyarakat apabila dikembangkan secara konsisten.

“Identitas budaya TTS adalah modal pembangunan. Ketika kita kuat secara budaya, kita akan kuat secara ekonomi dan sosial. Ketika tenun ikat TTS kita jaga dan kita banggakan, maka ia akan bernilai ekonomi tinggi dan ini akan menjadi daya tarik wisata yang mendatangkan pendapatan bagi daerah dan masyarakat,” jelasnya.

3. Bangun Generasi Muda Berbudaya

Pesan ketiga secara khusus ditujukan kepada generasi muda TTS sebagai pewaris budaya.

Buce mengingatkan agar kemajuan teknologi dan modernisasi tidak membuat anak-anak muda meninggalkan akar budayanya.

“Generasi muda TTS, kalian adalah pewaris budaya ini. Saya tidak ingin budaya kita hanya tinggal di museum dan di buku sejarah. Saya ingin budaya kita hidup di tangan kalian, di gerakan tarian kalian dan di hati kalian. Jadilah generasi muda yang modern, pintar teknologi, tetapi tetap berakar kuat pada budaya,” pesannya.

Festival Budaya TTS Ditargetkan Mendunia

Bupati Eduard Lioe menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS, panitia, sekolah, peserta, tokoh adat, seniman, budayawan, serta seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan Festival Budaya TTS 2026.

Ia berharap kualitas festival terus meningkat setiap tahun sehingga tidak hanya dikenal di tingkat daerah, tetapi mampu berkembang hingga tingkat nasional dan internasional.

Dengan dibukanya Festival Budaya TTS 2026, pemerintah daerah berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda budaya berkelanjutan yang menghubungkan tradisi, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan regenerasi budaya.

Antusiasme masyarakat pada hari pertama menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang kuat di tengah kehidupan masyarakat TTS. Melalui keterlibatan generasi muda, tradisi Atoin Meto diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup dan berkembang sebagai identitas sekaligus kekuatan pembangunan TTS. (rnc26)