Kupang, RakyatNTT.ID – Sebulan setelah gempa bumi magnitudo (M) 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), aktivitas gempa susulan di wilayah tersebut mulai menunjukkan tren penurunan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 15.722 gempa susulan hingga hari ke-31, Selasa (15/9/2026) pukul 05.00 WIB.

Pelaksana Harian (Plh.) Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan gempa susulan tersebut memiliki magnitudo yang beragam, mulai dari M0,9 hingga M6,2.

Dari total tersebut, sebanyak 190 gempa susulan dirasakan oleh masyarakat.

“Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis gempa terkini pada hari ini, frekuensi gempa susulan harian maupun juga mingguan menunjukkan pola penurunan dan telah memasuki fase peluruhan,” kata Ardhasena dalam konferensi pers, Selasa (15/9/2026).

Gempa Susulan Flores Terus Menurun

BMKG mencatat penurunan aktivitas gempa susulan dari pekan ke pekan.

Pada minggu pertama pascagempa utama, tercatat 5.011 gempa susulan. Angka tersebut turun menjadi 4.267 kejadian pada minggu kedua, kemudian 3.158 kejadian pada minggu ketiga dan 2.421 kejadian pada minggu keempat.

Sementara memasuki minggu kelima, BMKG sejauh ini mencatat 864 gempa susulan.

Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di Flores secara umum mulai memasuki fase peluruhan atau decay, meskipun gempa susulan masih berpotensi terjadi.

Gempa di Atas M5 Makin Jarang

Jika dilihat berdasarkan magnitudo, gempa susulan berkekuatan lebih dari M5 tercatat sebanyak 26 kejadian atau sekitar 0,2 persen dari total aktivitas.

BMKG menyebut aktivitas gempa pada kelompok magnitudo tersebut semakin jarang dan tidak tercatat dalam satu minggu terakhir.

Untuk gempa dengan magnitudo M4 hingga M5, tercatat sebanyak 476 kejadian atau sekitar 3 persen.

BMKG memperkirakan gempa pada rentang tersebut masih dapat berlangsung sekitar 4 hingga 5 minggu sejak gempa utama, dengan frekuensi yang terus menurun.

Sementara itu, gempa dengan magnitudo M3 hingga M4 tercatat sebanyak 3.308 kejadian atau 20,9 persen.

Aktivitas gempa pada kelompok tersebut diperkirakan masih dapat berlangsung sekitar 6 hingga 7 minggu sejak gempa utama.

Mayoritas Gempa Susulan di Bawah M3

Kelompok terbesar berasal dari gempa dengan magnitudo kurang dari M3.

BMKG mencatat sebanyak 11.993 gempa atau 75,9 persen berada dalam kelompok tersebut.

“Gempa pada kelompok ini adalah yang paling sering terjadi, sebagian besar tidak berdampak dan tidak dirasakan oleh masyarakat, melainkan hanya tercatat oleh jaringan seismograf BMKG. Aktivitas pada rentang ini diperkirakan masih berlangsung selama beberapa bulan ke depan,” ujar Ardhasena.

Dengan demikian, meski aktivitas gempa kuat semakin jarang, masyarakat Flores dan wilayah sekitarnya masih mungkin merasakan gempa-gempa kecil dalam beberapa bulan mendatang.

BMKG Ingatkan Masyarakat Tetap Waspada

BMKG memastikan pemantauan aktivitas kegempaan di Flores dan wilayah sekitarnya akan terus dilakukan secara berkelanjutan.

BMKG juga berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, BNPB, pemerintah daerah, BPBD, Forkopimda, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Kami juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada namun tetap tenang, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG,” kata Ardhasena.

Gempa M7,7 Flores Dipicu Flores Back-Arc Thrust

Gempa utama yang memicu rangkaian gempa susulan tersebut terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58.23 WIB.

Episenter gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT.

Gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust) dengan mekanisme sesar naik (thrust fault).

Gempa M7,7 tersebut juga sempat memicu peringatan dini tsunami dari BMKG.

Berdasarkan hasil observasi muka laut, tsunami tercatat di 16 lokasi di wilayah NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan.

Ketinggian tsunami yang tercatat antara lain mencapai 1,6 meter di Pota dan 1,61 meter di Reo.

Sebulan setelah gempa utama, aktivitas susulan kini menunjukkan tren penurunan. Namun, BMKG menegaskan pemantauan tetap dilakukan karena gempa-gempa susulan, terutama dengan magnitudo kecil, masih berpotensi terjadi dalam beberapa bulan ke depan. (*/rnc)