SoE, RakyatNTT.ID – Lebih dari 100 kepala keluarga (KK) di Kampung Niku, Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), hingga kini masih belum menikmati akses listrik.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Ketua Komisi I DPRD TTS, Marthen Natonis, yang menemui Manager PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) SoE untuk membahas kemungkinan perluasan jaringan listrik hingga ke Kampung Niku.

Pertemuan tersebut dilakukan setelah pembangunan jaringan listrik di Dusun Nambaun, Desa Boti, diketahui berpotensi belum menjangkau Kampung Niku.

Berdasarkan informasi yang diterima dari petugas lapangan, jalur pemasangan tiang listrik yang sedang dikerjakan sebelumnya belum mencakup wilayah Kampung Niku karena berada di luar jalur survei awal.

Empat RT di Kampung Niku Diharapkan Terjangkau Listrik

Ketua DPD Partai Perindo Kabupaten TTS itu berharap pembangunan jaringan listrik yang saat ini berlangsung di Dusun Nambaun dapat diperluas sehingga mencakup empat RT di Kampung Niku.

“Harapannya, sekiranya jaringan listrik yang sedang dikerjakan dapat menjangkau empat RT yang ada di Niku. Ini adalah harapan semua masyarakat di Dusun Nambaun,” kata Marthen, Kamis (24/9/2026).

Menurut informasi yang disampaikan Marthen, Kampung Niku memiliki lebih dari 100 KK serta fasilitas umum berupa gereja. Karena itu, perluasan jaringan listrik dinilai penting bagi kebutuhan dasar masyarakat di wilayah tersebut.

Bagi masyarakat setempat, ketersediaan listrik berkaitan langsung dengan aktivitas sehari-hari. Penerangan dapat mendukung anak-anak belajar pada malam hari, menghidupkan fasilitas umum serta membantu aktivitas ekonomi warga.

Minta Jalur Pembangunan Listrik Ditinjau Kembali

Marthen mengatakan dirinya telah berkoordinasi dengan Manager PLN ULP Soe agar persoalan tersebut dapat diteruskan ke unit PLN terkait di Kupang.

Ia juga mendorong agar peta jalur rencana pembangunan jaringan listrik dapat ditinjau atau direvisi sehingga Kampung Niku berpeluang masuk dalam cakupan pembangunan yang sedang berlangsung.

“Saya bertemu dan berkoordinasi dengan Manager ULP Soe untuk bisa dilanjutkan dengan UP2K Kupang. Sekiranya peta jalur rencana pembangunan listrik dapat direvisi,” ujarnya.

Menurut Marthen, penyesuaian jalur menjadi penting karena pekerjaan jaringan listrik di Dusun Nambaun masih berlangsung. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat Kampung Niku dapat dibahas sebelum pekerjaan pembangunan jaringan tersebut selesai.

Warga Berharap Tidak Kembali Menunggu

Persoalan akses listrik di Kampung Niku bukan hanya berkaitan dengan penerangan rumah. Ketiadaan listrik juga berpengaruh terhadap berbagai aktivitas masyarakat, terutama pendidikan anak dan kegiatan ekonomi.

Apabila Kampung Niku tidak masuk dalam cakupan pembangunan jaringan yang sedang berjalan, masyarakat dikhawatirkan harus menunggu program pembangunan berikutnya.

“Kalau tidak sekarang, maka kemungkinan akan membutuhkan waktu yang lama lagi baru bisa mendapatkan akses. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sekiranya masyarakat Niku bisa mendapatkan akses listrik,” kata Marthen.

Upaya perluasan jaringan listrik tersebut selanjutnya membutuhkan koordinasi antara pihak PLN dan pemangku kepentingan terkait untuk memastikan kemungkinan perubahan jalur serta kebutuhan teknis pembangunan di Kampung Niku.

Bagi warga, harapan utamanya sederhana: jaringan listrik yang sedang dibangun di wilayah mereka tidak berhenti sebelum mencapai kampung yang selama ini belum menikmati penerangan listrik. (*/rnc)