KEFAMENANU, RakyatNTT.ID – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, mengajak umat Gereja Santo Mikhael Bitefa, Paroki Tunbaba, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), untuk menjadikan gereja sebagai mercusuar kehidupan masyarakat dalam bidang keluarga, pendidikan, dan ekonomi.

Ajakan tersebut disampaikan Gubernur Melki saat menghadiri dan mengikuti Misa Pentahbisan Gereja Santo Mikhael Bitefa, Senin (21/9/2026) malam. Perayaan tersebut juga dirangkaikan dengan syukuran 19 tahun tahbisan episkopat Uskup Atambua, Yang Mulia Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pembangunan Gereja St. Mikhael Bitefa hingga rampung dan ditahbiskan.

“Atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah memberikan perhatian, dukungan, dan kontribusi nyata dalam mendorong proses pembangunan Gereja St. Mikhael Bitefa hingga tiba pada saat penahbisan hari ini,” ujar Gubernur Melki.

Ia mengatakan, pentahbisan gereja yang bertepatan dengan perayaan 19 tahun tahbisan episkopat Uskup Atambua menjadi momentum penuh sukacita dan berkat bagi seluruh umat.

Perayaan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk mengungkapkan rasa syukur atas pengabdian dan pelayanan Mgr. Dominikus Saku selama 19 tahun dalam menggembalakan umat di Keuskupan Atambua.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki mengutip ungkapan Latin, “Non Lapidibus Tantum, Sed Fide Aedificatur Ecclesia,” yang berarti gereja tidak dibangun hanya dengan batu, tetapi dengan iman.

Menurutnya, setiap batu yang tersusun dalam bangunan Gereja St. Mikhael Bitefa menyimpan kisah tentang doa, pengorbanan, keringat, air mata, kemurahan hati, serta iman dan harapan umat kepada Tuhan.

“Karena itu, ketika kita memandang gereja ini, jangan hanya melihat kemegahan bangunannya. Lihatlah di balik batu-batunya terdapat wajah orang-orang yang telah berjuang. Ingatlah tangan-tangan yang pernah bekerja dan kenanglah mereka yang telah memberikan apa yang mereka miliki,” katanya.

Gubernur Melki menekankan bahwa pembangunan gereja tidak semata-mata diukur dari kemegahan fisik bangunan, tetapi juga dari nilai iman, persaudaraan, dan pengorbanan yang menyertai proses pembangunannya.

Dorong Peran Gereja dalam Keluarga, Pendidikan dan Ekonomi

Lebih lanjut, Gubernur NTT berharap Gereja St. Mikhael Bitefa tidak hanya menjadi tempat peribadatan dan pembinaan spiritual, tetapi juga hadir sebagai mercusuar kehidupan masyarakat.

Ia mendorong gereja untuk berperan dalam memperkuat berbagai aspek kehidupan umat, termasuk keluarga, pendidikan, pembentukan karakter, kerukunan, dan pengembangan ekonomi.

Dalam bidang keluarga dan pendidikan, gereja diharapkan dapat mendukung Program Jam Belajar. Sementara itu, dalam bidang ekonomi, gereja didorong untuk mendukung program One Village One Product (OVOP) atau satu desa satu produk.

Menurut Gubernur Melki, peran tersebut penting untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih kuat, meningkatkan kepedulian terhadap pendidikan, serta membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.

Di akhir sambutannya, Gubernur menegaskan bahwa Gereja St. Mikhael Bitefa diharapkan menjadi rumah iman yang hidup, rumah persaudaraan, rumah pelayanan, sekaligus mercusuar yang memberikan arah dan harapan bagi masyarakat.

Buah Iman dan Gotong Royong

Sementara itu, Bupati TTU, Falentinus Kebo, dalam sekapur sirihnya mengatakan bahwa pentahbisan dan peresmian Gereja St. Mikhael Bitefa bukan sekadar peresmian sebuah bangunan.

Menurutnya, gereja tersebut merupakan buah dari iman, pengorbanan, gotong royong, dan kesetiaan umat yang terus menjaga harapan meskipun proses pembangunan sempat menghadapi berbagai tantangan dan terhenti.

Ia menegaskan bahwa pembangunan kehidupan masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan peran bersama gereja, keluarga, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten TTU terus berupaya memberikan perhatian terhadap kehidupan umat dan rumah-rumah ibadah sesuai kemampuan serta ketentuan yang berlaku.

Bupati Falentinus juga mengajak umat St. Mikhael Bitefa untuk menjadikan gereja yang telah berdiri sebagai awal perjalanan iman yang baru.

Gereja, katanya, harus menjadi tempat tumbuhnya keluarga yang kuat dalam iman, anak-anak yang mengenal Tuhan, generasi muda yang memiliki harapan, serta semangat melayani dan peduli terhadap sesama.

“Rawatlah gereja ini, tetapi lebih dari itu, rawatlah persaudaraan yang telah membuat gereja ini berdiri. Jangan biarkan semangat gotong royong berhenti setelah pembangunan selesai,” pesannya.

Uskup Atambua Dorong Umat Semakin Aktif dalam Kehidupan Menggereja

Pada kesempatan yang sama, Uskup Atambua, Yang Mulia Mgr. Dominikus Saku, Pr., menyampaikan rasa syukur atas selesainya pembangunan Gereja St. Mikhael Bitefa.

Ia mengakui bahwa perjalanan pembangunan gereja tersebut tidak mudah dan sempat terhenti selama beberapa tahun.

Uskup Dominikus juga mengingatkan umat Stasi Bitefa untuk terus mempersiapkan diri dan membangun kehidupan menggereja. Seiring dengan pentahbisan gereja, administrasi Stasi Bitefa mulai ditata secara mandiri, termasuk pelayanan administrasi seperti surat permandian yang tidak lagi bergabung dengan paroki induk.

Ia mendorong umat agar semakin aktif menghidupkan gereja. Menurutnya, keaktifan umat dalam kehidupan menggereja merupakan bagian penting dalam membangun budaya iman yang semakin kuat.

“Terima kasih atas doa-doa umat Bitefa. Selamat berbahagia dan selamat berbakti dalam roh dan kebenaran,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut diakhiri dengan penandatanganan prasasti peresmian dan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur atas perayaan 19 tahun tahbisan episkopat Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut unsur Forkopimda Kabupaten TTU, jajaran pejabat pimpinan tinggi pratama Kabupaten TTU, pimpinan perangkat daerah terkait lingkup Pemerintah Provinsi NTT, Vikjen Keuskupan Atambua Pater Vinsen Wun, SVD, Romo Deken Kefamenanu, Pastor Paroki St. Andreas Tunbaba bersama para imam dan biarawan-biarawati, para donatur, panitia pembangunan, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta seluruh umat St. Mikhael Bitefa. (rnc)