Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
KUPANG, RakyatNTT.ID — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendistribusikan bantuan tanggap darurat ke tujuh kabupaten di Flores yang terdampak gempa bumi.
Bantuan tersebut diangkut menggunakan lima truk dan diberangkatkan dengan kapal feri dari Pelabuhan Bolok menuju Pelabuhan Aimere, Jumat (11/9/2026).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, mengatakan bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan guru dan siswa sekaligus menunjang kegiatan belajar mengajar yang masih berlangsung secara terbatas di wilayah terdampak gempa.
“Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT juga memanfaatkan bantuan Presiden untuk tanggap darurat bencana gempa Flores. Jadi hari ini kami distribusikan bantuan ke Flores untuk mendukung kegiatan belajar mengajar terbatas,” ujar Ambros Kodo kepada RakyatNTT.ID.
Adapun bantuan yang didistribusikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT berupa terpal, selimut, school kit, air mineral, mi instan, beras, dan tikar.
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar para guru dan siswa sekaligus mendukung keberlangsungan proses pendidikan di tengah kondisi pascagempa.
Ambrosius Kodo mengatakan, bencana memang dapat menimbulkan korban, kerusakan, kerugian, hingga dampak psikologis bagi masyarakat. Namun, kondisi tersebut tidak boleh sampai membatasi harapan dan cita-cita anak-anak NTT di Flores.
Menurutnya, para peserta didik harus tetap memiliki semangat untuk belajar dan menatap masa depan.
“Buat anak-anak peserta didik, tetaplah bersemangat. Badai pasti berlalu,” ujarnya.
Guru Diminta Terus Buka Ruang Belajar
Kepada para guru dan tenaga kependidikan di wilayah terdampak, Ambros Kodo menitipkan pesan agar tetap membuka ruang dan peluang bagi peserta didik untuk belajar meskipun dalam kondisi terbatas.
Ia mengapresiasi para guru dan tenaga kependidikan yang tetap menjalankan tugas di tengah situasi pascabencana.
“Terima kasih untuk para guru dan tenaga kependidikan yang tetap setia dalam tugas dan tanggung jawabnya,” ungkap Ambros Kodo.
Menurutnya, keberlanjutan pendidikan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pascabencana. Karena itu, keterbatasan akibat gempa diharapkan tidak menghentikan proses belajar anak-anak di Flores.
Pendidikan Kebencanaan Harus Diperkuat
Selain penanganan pascabencana, Ambros Kodo menilai pendidikan kebencanaan perlu diperkuat di setiap satuan pendidikan sebagai langkah menghadapi kemungkinan bencana di masa mendatang.
Ia mengatakan bencana tidak dapat sepenuhnya dihindari. Namun, risiko dan dampaknya dapat diminimalkan melalui kesiapsiagaan serta mitigasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Bencana tidak bisa kita hindari. Yang bisa kita buat adalah meminimalisir risiko atau dampak bencana,” katanya.
Karena itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT akan memastikan pembelajaran tentang kebencanaan dilakukan di setiap satuan pendidikan.
Sekolah juga didorong untuk mengenali potensi ancaman bencana di wilayah masing-masing, melakukan mitigasi, serta rutin menggelar latihan dan simulasi.
“Kenali potensi ancaman, lakukan mitigasi, sering lakukan geladi-simulasi untuk menjadikan sekolah sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB),” pungkasnya. (rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan