Jika mayoritas merasa berhak menentukan seluruh ruang hidup kelompok yang lebih sedikit, demokrasi dapat kehilangan substansinya.

Dalam negara hukum, jumlah tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan hak warga negara.

Karena itu, demokrasi Pancasila tidak dapat dimaknai sebagai “mayoritas boleh melakukan apa saja”.

Mayoritas memiliki hak. Kelompok yang lebih sedikit juga memiliki hak.

Keduanya berada dalam ruang yang sama: konstitusi dan hukum.

Pancasila Harus Keluar dari Ruang Kelas

Kita sudah lama mengajarkan Pancasila.

Lima sila dihafalkan. Bhinneka Tunggal Ika disebutkan. Toleransi dan persatuan terus dikampanyekan.

Namun, tantangan sebenarnya muncul ketika nilai tersebut harus dipraktikkan.

Mudah mengatakan bahwa kita menghormati keberagaman ketika tidak berhadapan dengan orang yang berbeda. Yang sulit adalah tetap menghormati orang lain ketika keyakinan dan pandangannya tidak sama dengan kita.

Pancasila tidak boleh berhenti sebagai materi ujian.

Pancasila harus menjadi etika kehidupan.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa semestinya mendorong penghormatan terhadap kehidupan beragama. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menuntut penghormatan terhadap martabat manusia. Persatuan Indonesia mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling meniadakan.