Oelamasi, RakyatNTT.ID – Gelaran Bintang Mercy Cup (BMC) II yang digagas DPC Partai Demokrat Kabupaten Kupang tidak hanya menjadi ajang kompetisi bola voli.

Turnamen tersebut ikut menggerakkan perekonomian masyarakat melalui keterlibatan puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

BMC II digelar melalui kolaborasi dan dukungan bersama Senator DPD RI perwakilan NTT, Stevi Harman. Kompetisi ini menjadi bagian dari upaya mendorong pembinaan olahraga sekaligus menghadirkan ruang ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi pertandingan.

Turnamen yang berlangsung di lapangan upacara SD GMIT Naifalo, Desa Nunsaen, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, tersebut menghadirkan sekitar 24 lapak UMKM.

Para pelaku usaha menjajakan beragam kuliner dan produk kepada penonton yang datang dari berbagai desa. Kehadiran UMKM membuat suasana pertandingan tidak hanya dipenuhi aktivitas olahraga, tetapi juga menyerupai pesta rakyat.

Penonton dapat menyaksikan pertandingan bola voli sambil menikmati berbagai makanan dan minuman yang dijual para pelaku usaha. Sejumlah wahana hiburan untuk anak-anak juga turut menambah semarak suasana di sekitar arena pertandingan.

BMC II Beri Dampak Ekonomi bagi Warga Desa Nunsaen

Kepala Desa Nunsaen, Litherheart A. Niuflapu, mengapresiasi DPC Partai Demokrat Kabupaten Kupang yang memilih Desa Nunsaen sebagai lokasi penyelenggaraan BMC II.

Menurutnya, konsep turnamen yang dikemas seperti pesta rakyat memberikan dampak positif bagi masyarakat. Selain menjadi hiburan, kegiatan tersebut menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi warga.

“Sebagai orang kampung, kami bersyukur BMC hadir sebagai wadah pencarian bakat voli. Tak kalah menarik, ini kompetisi yang berdampak juga untuk ekonomi warga,” ucapnya.

Litherheart mengatakan, perputaran ekonomi di Desa Nunsaen meningkat selama kompetisi berlangsung. Setiap malam, masyarakat dari berbagai desa datang menyaksikan pertandingan sekaligus berbelanja di lapak UMKM.

“Tentu pemerintah desa sangat bersyukur karena perputaran ekonomi di Desa Nunsaen ini terjadi. Setiap malam banyak penonton maupun pengunjung yang datang ke UMKM. Antusiasme masyarakat sejak pertandingan pertama hingga sekarang sangat tinggi,” jelasnya.

Ia berharap kegiatan seperti BMC dapat terus digelar dan dikembangkan. Menurutnya, Partai Demokrat tidak hanya memiliki peran sebagai salah satu pilar politik, tetapi juga dapat memberikan kontribusi melalui kegiatan positif yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

BMC jadi Wadah Pencarian Bibit Atlet Muda

Selain dampak ekonomi, BMC II juga dinilai memiliki nilai penting dalam pembinaan olahraga, khususnya bola voli.

Litherheart berharap kompetisi tersebut dapat menjadi wadah untuk menemukan bibit-bibit atlet muda berbakat dari desa-desa di Kabupaten Kupang.

Menurutnya, para pemain potensial yang tampil dalam BMC dapat memiliki kesempatan untuk mengikuti proses seleksi tim bola voli NTT yang dipersiapkan menghadapi PON 2028.

Dengan demikian, kompetisi tingkat desa dan antarklub seperti BMC tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan atlet secara berjenjang.

Bola Voli dan Ekonomi Rakyat Bergerak Bersama

Ketua Panitia BMC II, Niko Paut, mengatakan penyelenggaraan turnamen tersebut bertujuan menghadirkan ruang kompetisi bagi generasi muda sekaligus mendorong perkembangan olahraga di tengah masyarakat.

Menurutnya, bola voli merupakan olahraga rakyat yang memiliki basis penggemar luas. Jika dikolaborasikan dengan sektor UMKM, kompetisi olahraga dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.

“Kita menggelar ini bukan sekadar bertanding, tetapi bagaimana menghadirkan ekonomi ikut terdampak,” ungkapnya.

Konsep tersebut terlihat dari keterlibatan puluhan pelaku UMKM yang membuka lapak selama pertandingan berlangsung.

Arus penonton yang datang dari berbagai desa menciptakan pasar baru bagi pedagang makanan, minuman maupun produk lainnya.

UMKM Raup Omzet Jutaan Rupiah Selama BMC II

Dampak ekonomi BMC II dirasakan langsung oleh pelaku UMKM. Salah satunya Igi Dima, pelaku usaha kuliner asal Desa Camplong.

Igi membuka lapak dengan menjual ayam geprek dan pentol goreng selama berlangsungnya kompetisi.

Ia mengaku awalnya hanya mencoba berjualan karena ingin memanfaatkan momentum ketika klub dari desanya bertanding. Namun, tingginya antusiasme penonton membuat dagangannya justru mendapat respons positif.

Bahkan, makanan yang dijualnya dapat habis dalam satu malam.

“Saya baru dua hari buka, tetapi puji Tuhan jualan bisa habis. Jujur, dalam sehari ini sudah mau mencapai Rp1 juta,” ungkap Igi.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan kompetisi olahraga di tingkat masyarakat dapat menciptakan efek ekonomi berantai.

Ketika pertandingan menghadirkan banyak penonton dari berbagai desa, kebutuhan terhadap makanan, minuman, hiburan dan berbagai produk UMKM ikut meningkat.

BMC II akhirnya tidak hanya menjadi panggung bagi para atlet untuk menunjukkan kemampuan di lapangan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara olahraga, hiburan dan ekonomi rakyat. (rnc04)