Jakarta, RakyatNTT.ID – Bermain game lebih dari lima jam dalam seminggu dikaitkan dengan performa kognitif yang diperkirakan setara dengan kondisi otak 13,7 tahun lebih muda dibandingkan orang yang tidak rutin bermain game.

Temuan tersebut berasal dari penelitian berjudul Characterizing the Cognitive and Mental Health Benefits of Exercise and Video Game Playing yang disusun oleh Sydni G. Paleczny, Conor J. Wild, Alex Xue, Roger Highfield, dan Adrian M. Owen.

Temuan penelitian itu dibagikan kembali oleh dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Adam Prabata, melalui unggahan di akun Instagram miliknya.

Penelitian Libatkan Sekitar 2.000 Partisipan

Penelitian tersebut mengamati sekitar 2.000 partisipan dari berbagai negara. Para peneliti melihat kebiasaan bermain game para partisipan, kemudian membandingkannya dengan performa kognitif mereka.

“Penelitian ini merekrut 2.000 orang dari berbagai negara, kemudian dilihat kebiasaan bermain game-nya, lalu dibandingkan kemampuan kognitif otaknya,” tulis dr. Adam, dikutip Jumat (17/9/2026).

Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan performa kognitif antara kelompok yang rutin bermain game dan kelompok yang tidak rutin bermain game.

Partisipan yang bermain game lebih dari lima jam per minggu memiliki performa kognitif yang diperkirakan setara dengan kelompok yang 13,7 tahun lebih muda dibandingkan kelompok yang tidak rutin bermain game.

Sementara itu, partisipan yang bermain game kurang dari lima jam per minggu memiliki performa kognitif yang diperkirakan setara dengan kondisi sekitar 5 tahun lebih muda dibandingkan kelompok yang tidak rutin bermain game.

Memori hingga Kecepatan Memproses Informasi

Menurut dr. Adam, sejumlah fungsi kognitif yang dikaitkan dengan temuan tersebut mencakup beberapa kemampuan penting otak.

Di antaranya adalah memori jangka pendek, kemampuan penalaran, kemampuan verbal, serta kecepatan memproses informasi.

“Kemampuan kognitif otak yang menjadi awet muda pada orang yang rutin main game meliputi memori jangka pendek, kemampuan penalaran, kemampuan verbal, kecepatan memproses informasi,” katanya.

Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan bermain game dan performa pada sejumlah aspek kognitif. Namun, hasil penelitian tidak serta-merta berarti bermain game membuat kemampuan kognitif seseorang menjadi lebih muda.

Bukan Bukti Game Menyebabkan Otak Lebih Muda

Dr. Adam mengingatkan bahwa penelitian tersebut masih berada pada level asosiasi, sehingga belum dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat.

“ Tapi ingat, penelitian ini baru asosiasi ya levelnya, bukan sebab akibat. Masih mungkin ada faktor lain yang berpengaruh ke kemampuan kognitif, selain rutinitas main game,” ujarnya.

Dengan demikian, hasil penelitian perlu dipahami secara hati-hati. Perbedaan performa kognitif antara kelompok gamer dan non-gamer tidak secara otomatis membuktikan bahwa durasi bermain game menjadi penyebab meningkatnya kemampuan kognitif.

Ada kemungkinan faktor lain turut berperan dalam hubungan yang ditemukan oleh peneliti.

Tetap Perlu Pola Hidup Sehat

Bermain game dapat menjadi salah satu aktivitas yang berkaitan dengan performa sejumlah fungsi kognitif. Namun, menjaga kesehatan otak tetap membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh.

Pola hidup sehat, aktivitas fisik, tidur yang cukup, pola makan seimbang, serta aktivitas yang merangsang kemampuan mental tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan fungsi otak.

Karena itu, temuan mengenai hubungan bermain game dengan performa kognitif sebaiknya tidak dimaknai sebagai ajakan untuk bermain game tanpa batas, melainkan sebagai hasil penelitian yang masih membutuhkan pemahaman lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan kognitif manusia. (*/rnc)