Nilai-nilai tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Sabu Raijua sejak dahulu telah memiliki kearifan, ketangguhan dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi alam.

Lontar jadi Simbol Resiliensi Masyarakat Sabu

Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati juga menyoroti pohon lontar sebagai salah satu simbol ketahanan masyarakat Sabu.

Bagi masyarakat Sabu, lontar bukan sekadar tanaman. Pohon tersebut telah menjadi bagian penting dari kehidupan sekaligus identitas masyarakat.

Berbagai kebutuhan hidup dapat diperoleh dari lontar, mulai dari pangan, bahan bangunan, kerajinan hingga sumber ekonomi keluarga melalui pengolahan nira menjadi gula Sabu maupun minuman tradisional.

“Di tengah kondisi alam yang kering, pohon lontar tetap tumbuh dan memberikan kehidupan. Lontar mengajarkan sebuah nilai penting bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk bertahan dan berkembang. Nilai inilah yang menggambarkan semangat resiliensi masyarakat Sabu Raijua,” ungkap Thobias.

Menurutnya, semangat ketahanan yang diwariskan para leluhur perlu terus dihidupkan dalam pembangunan daerah saat ini.

Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua terus mendorong pengembangan berbagai potensi lokal sebagai kekuatan ekonomi masyarakat.

Di sektor pertanian, pemerintah berupaya meningkatkan produktivitas dan mengembangkan komoditas unggulan daerah, termasuk bawang yang dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan.