Kupang, RakyatNTT.ID — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 78 orang meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026).

Data tersebut merupakan pembaruan BNPB hingga Kamis (20/8/2026) petang dan disampaikan dalam keterangan resmi yang diterima pada Jumat (21/8/2026).

Selain korban meninggal dunia, sebanyak 953 orang mengalami luka-luka, sementara 95.871 orang lainnya harus mengungsi akibat bencana tersebut.

“78 orang meninggal dunia, 953 orang mengalami luka-luka dan 95.871 orang lainnya mengungsi,” demikian keterangan BNPB.

Gempa Berdampak pada Tiga Provinsi

Gempa M7,7 yang terjadi pada pukul 04.58 WIB tersebut berdampak luas. BNPB mencatat bencana ini memengaruhi tiga provinsi, sembilan kabupaten, dan satu kota.

Sejumlah daerah terdampak juga telah menetapkan status tanggap darurat. Penetapan status tersebut dilakukan untuk mempercepat mobilisasi sumber daya serta penanganan masyarakat yang terdampak bencana.

Dampak gempa tidak hanya dirasakan dari sisi korban jiwa dan pengungsian, tetapi juga menyebabkan kerusakan besar terhadap permukiman serta berbagai fasilitas publik.

Hampir 39 Ribu Rumah Rusak

BNPB mencatat sebanyak 38.898 rumah mengalami kerusakan akibat gempa.

Rinciannya terdiri dari:

  • 14.735 rumah rusak berat
  • 9.178 rumah rusak sedang
  • 14.985 rumah rusak ringan

Kerusakan tersebut membuat ribuan warga kehilangan tempat tinggal atau memilih mengungsi karena kondisi bangunan yang dinilai belum aman untuk ditempati.

Selain rumah warga, gempa juga merusak berbagai fasilitas yang menjadi penunjang aktivitas masyarakat.

Ratusan Fasilitas Publik Terdampak

BNPB mencatat sedikitnya 502 fasilitas pendidikan dan 244 fasilitas kesehatan terdampak gempa.

Selain itu, terdapat 220 rumah ibadah, 294 unit kantor, satu gudang pupuk, 10 fasilitas irigasi, 31 fasilitas umum, satu pasar, 45 titik jalan, dan 16 jembatan yang mengalami dampak akibat gempa.

Kerusakan infrastruktur tersebut menjadi salah satu tantangan dalam proses penanganan darurat, terutama untuk menjangkau wilayah yang akses jalannya mengalami gangguan.

BNPB Perkuat Penanganan Darurat

Pasca gempa, BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait terus melakukan penanganan darurat di berbagai wilayah terdampak.

Fokus penanganan meliputi pencarian dan pertolongan, evakuasi korban, pelayanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan logistik dan pengungsian, pengerahan personel gabungan, hingga percepatan pemulihan infrastruktur dasar.

BNPB juga mengerahkan dukungan logistik dan dapur umum ke sejumlah lokasi terdampak untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Pengiriman bantuan logistik nasional dilakukan melalui jalur udara. Sementara itu, untuk wilayah yang terisolasi akibat kerusakan akses darat, distribusi bantuan dilakukan menggunakan helikopter.

Langkah tersebut dilakukan agar kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak tetap dapat dipenuhi meskipun sejumlah jalur transportasi mengalami gangguan. (*/rnc)