Kupang, RakyatNTT.ID — Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi menyerahkan tiga peserta perdana Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) kepada rumah sakit pendidikan untuk memulai pendidikan klinis.

Prosesi penyerahan berlangsung di Aula Rektorat Undana, Kupang, Sabtu (29/8/2026). Momentum ini menjadi tonggak awal penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis di Undana sekaligus bagian dari upaya menjawab persoalan kelangkaan dan ketimpangan distribusi dokter spesialis di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tiga peserta perdana tersebut yakni dr. Jefren Evander Bulan dan dr. Elias Wirnanta Syahputra Ginting dari Program Studi PPDS Obstetri dan Ginekologi (Obgyn), serta dr. Irvan Januard Adoe dari Program Studi PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif.

Ketiganya merupakan dokter utusan daerah, di antaranya berasal dari Kabupaten Alor dan Kabupaten Rote Ndao.

Mereka akan menjalani sekitar 98 persen proses pendidikan klinis di rumah sakit, terutama di RSUP dr. Ben Mboi Kupang dan RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang sebagai rumah sakit jejaring utama pendidikan.

Sebelum memasuki lingkungan rumah sakit, ketiga peserta telah mengikuti orientasi akademik dan administrasi selama tiga hari, yakni 27–29 Agustus 2026.

Undana Mulai Cetak Dokter Spesialis dari Daerah

Mewakili Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., Wakil Rektor IV Undana Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D. menyebut penyerahan peserta perdana PPDS sebagai momentum bersejarah bagi universitas.

Menurutnya, penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis merupakan bagian dari tanggung jawab moral Undana melalui semangat Undana Berdampak.

Karena sebagian besar proses pendidikan berlangsung di rumah sakit, keberhasilan program tersebut membutuhkan sinergi kuat antara universitas dan rumah sakit pendidikan.

Prof. Philiphi menekankan pentingnya membentuk dokter spesialis yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga integritas, empati, dan jiwa pengabdian.

“Undana harus menjadi berkat bagi banyak orang. Gunakan talenta yang kita punya untuk memberikan manfaat. Pasien maupun dokter senior yang membimbing, serta lokasi yang ada menjadi sekolah dan laboratorium kita,” ujar Prof. Philiphi.

PPDS Undana Dibina Universitas Udayana dan Universitas Airlangga

Dekan FKKH Undana, Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi., menjelaskan bahwa penyelenggaraan PPDS Undana mendapat pembinaan dari fakultas kedokteran pembina yang telah berpengalaman.

Untuk Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, pembinaan dilakukan oleh Universitas Udayana, sedangkan Program Studi Obgyn dibina oleh Universitas Airlangga.

Kurikulum yang digunakan mengacu pada kurikulum nasional berbasis kolegium. Namun, Undana juga memadukannya dengan muatan lokal yang sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan dan lahan kering NTT.

Christina menjelaskan, proses pendidikan dokter spesialis memang sebagian besar berlangsung di rumah sakit.

“Pendidikan profesi spesialis itu 98 persennya di rumah sakit, jadi bukan di Undana. Karena itu pengenalan ini penting karena mereka masih menjadi mahasiswa baru,” jelasnya.

Dengan pola tersebut, rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi ruang utama pembelajaran klinis bagi peserta PPDS.

RSUP dr. Ben Mboi: PPDS jadi Solusi Jangka Panjang

Direktur RSUP dr. Ben Mboi Kupang, dr. Robinzon Gunawan Fanggidae, Sp.An-TI, FIP, menyambut kehadiran PPDS Undana sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan NTT terhadap dokter spesialis dari luar daerah.

Selama ini, salah satu persoalan yang dihadapi NTT adalah dokter spesialis dari luar daerah yang tidak selalu menetap setelah masa penugasan berakhir.

Menurut Robinzon, kondisi tersebut membuat ketersediaan dokter spesialis di sejumlah kabupaten masih belum stabil.

Karena itu, mencetak dokter spesialis dari putra-putri daerah dinilai menjadi strategi penting agar tenaga kesehatan tersebut dapat kembali dan mengabdi di daerah asal.

“Harapannya, anak-anak daerah NTT yang bersekolah di sini sehingga ke depan kita tidak perlu mencari lagi dari luar. Anak-anak ini akan menempati posisi-posisi di kabupaten yang saat ini kosong,” kata Robinzon.

RSUP dr. Ben Mboi juga memiliki potensi kasus klinis yang besar sebagai tempat pendidikan. Rumah sakit tersebut menangani sekitar 600 kasus operasi setiap bulan, sehingga peserta PPDS memiliki ruang pembelajaran klinis yang cukup luas.

Di sisi lain, standar penerimaan peserta juga dilakukan secara ketat melalui berbagai tahapan seleksi, termasuk ujian dan tes MMPI.

RSUD Johannes Tekankan Empati dalam Pendidikan Dokter

Wakil Direktur Pelayanan RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang, dr. Yusi Kusumawardani, M.Kes., mengatakan pihaknya menyambut baik kemitraan dengan Undana dalam penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis.

Menurut Yusi, proses pendidikan dokter tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan teknis dan keilmuan. Empati terhadap pasien harus menjadi bagian penting dari pembentukan seorang dokter.

“RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes menjadi partner dalam media pembelajaran, menjadi kawah candradimuka mulai dari program pendidikan S1 kedokteran sampai dengan spesialis,” ungkap Yusi.

Ia menambahkan, profesi dokter tidak hanya berbicara mengenai kemampuan menghitung dan mengambil keputusan medis, tetapi juga bagaimana nilai kemanusiaan diterapkan dalam pelayanan.

“Pekerjaan dokter bukan hanya bicara tentang kalkulator, tetapi bagaimana empati boleh dilaksanakan dan menjadi jiwa dalam kita bekerja dan melayani,” katanya.

Penerimaan PPDS Ditargetkan Dua Kali Setahun

FKKH Undana menargetkan penerimaan peserta PPDS dapat dilakukan dua kali dalam setahun.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk memprioritaskan putra-putri daerah yang memiliki ikatan kerja dengan pemerintah daerah.

Skema tersebut diharapkan menciptakan siklus pendidikan dan pengabdian yang lebih berkelanjutan. Dokter dari daerah mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan spesialis, kemudian dapat kembali mengisi kebutuhan dokter spesialis di kabupaten asal.

Untuk memperkuat skema pembiayaan, Undana juga mengusulkan nama-nama peserta untuk memperoleh dukungan pembiayaan afirmasi dari LPDP.

Selain itu, Undana memproyeksikan perluasan rumah sakit jejaring pendidikan hingga ke tingkat kabupaten serta membuka peluang kerja sama internasional.

Target Pemerataan Dokter Spesialis di NTT

Penyelenggaraan PPDS di daerah menjadi salah satu langkah strategis untuk mengatasi persoalan pemerataan dokter spesialis di NTT.

Sebagai provinsi kepulauan dengan wilayah yang tersebar, kebutuhan tenaga dokter spesialis tidak hanya berada di Kota Kupang. Rumah sakit di kabupaten-kabupaten juga membutuhkan tenaga medis spesialis untuk memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan tingkat lanjut tanpa harus selalu dirujuk ke daerah lain.

Selama ini, keterbatasan kuota pendidikan dokter spesialis dan tingginya ketergantungan terhadap tenaga medis dari luar daerah menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Melalui pendidikan dokter spesialis yang diselenggarakan di NTT, Undana berupaya membangun sumber daya manusia kesehatan dari daerah untuk kembali melayani daerah.

Jika skema tersebut berjalan konsisten, ketersediaan dan pemerataan dokter spesialis di berbagai kabupaten NTT ditargetkan mulai menunjukkan perbaikan signifikan dalam empat hingga lima tahun mendatang.

Langkah ini sekaligus menempatkan Undana bukan hanya sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi sebagai bagian dari solusi atas persoalan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan NTT. (*/rnc)