Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Selain itu, proyek ini juga dilengkapi jaringan intake, area karantina, jalan produksi, berbagai fasilitas penunjang, serta IPAL utama seluas 82,34 hektare guna memastikan aktivitas budidaya berjalan efisien, terukur, dan berkelanjutan.
Hingga 29 Juli 2026, progres pembangunan fisik telah mencapai sekitar 10 persen dengan dukungan 312 unit alat berat serta melibatkan 682 tenaga kerja konstruksi.
Pembangunan dijadwalkan berlangsung sepanjang 2026–2027, dilanjutkan operasional tahap awal pada 2027, dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2028.
Dorong Devisa dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menilai proyek tersebut akan meningkatkan daya saing ekspor udang Indonesia sekaligus menghasilkan devisa bagi negara.
“Kalau kita yang produksi dan kita ekspor, kita akan mendapat devisa. Yang diuntungkan adalah rakyat Sumba, NTT, dan Indonesia. Itu yang disebut swasembada pangan untuk kehormatan,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan tambak udang terintegrasi juga akan menciptakan efek berganda terhadap perekonomian daerah. Meningkatnya produksi udang diperkirakan akan memperbesar kebutuhan jagung dan tepung ikan sebagai bahan baku pakan, sehingga membuka pasar baru bagi sektor pertanian dan perikanan lokal.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan