Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.id – Menanam dan merawat tanaman cabai bukan perkara mudah. Terkesan gampang-gampang susah. Jika sampai panen, harga cabai bisa se pedas rasanya. Tapi, bila hama menyerang, tanaman cabai tak bisa dipanen. Alasan itulah yang menghantui para petani di Kuan Maumolo, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Mereka tak merugi, seperti sebelumnya.
Namun, harapan baru dilecutkan Andre Setiawan, koordinator Program Pemberdayaan Masyarakat yang ditugaskan Yayasan Felix Maria Go (YFMG) di Maumolo. Dia sukses memanfaatkan lahan yang selama ini tidak produktif, menjadi kebun cabai yang subur. Di lahan seluas kurang lebih 1.200 meter persegi, Andre menanam cabai dengan populasi 700 lubang tanam, dan sayuran seperti kangkung, pakcoy, serta sawi.
Budidaya cabai dipilih Andre karena selain ingin memanfaatkan lahan yang tidak produktif, kebun cabai ini juga difungsikan sebagai media pembelajaran bagi masyarakat sekitar. Pasalnya, mayoritas petani di Kampung Maumolo adalah petani sayur umur pendek, seperti kangkung, sawi, pakcoy dan sebagainya. “Setelah saya tanya kenapa tidak ada yang berani mencoba menanam cabai untuk jumlah yang banyak, sedangkan harga cabai dipasar sangat tinggi bisa mencapai 70-80 ribu perkilo, mereka berlasan takut rugi. “Tanam cabai susah mas, hama nya banyak, jadi kami tanam sayur saja,” ujar Primus, salah satu petani Maumolo.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan