Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kalabahi, RakyatNTT.ID – Pemerintah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mendorong peningkatan produksi pangan lokal sebagai strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Alor, Melkisedek Bely, S.Sos., M.Si., saat menghadiri kegiatan pengembangan pertanian bersama kelompok tani di Maiwal, Desa Pintu Mas, Kecamatan Alor Barat Daya (ABAD), Rabu (12/8/2026).
Kehadiran Sekda menjadi bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap kelompok tani yang mulai mengembangkan produksi pangan dengan memanfaatkan potensi lahan yang tersedia.
Menurut Melkisedek, kegiatan pertanian yang dilakukan masyarakat mungkin terlihat sederhana. Namun, kegiatan tersebut memiliki arti penting karena menjadi bagian dari proses membangun ketahanan pangan dari tingkat masyarakat.
“Bagi sebagian orang, kegiatan seperti ini mungkin terlihat kecil dan sederhana. Tetapi bagi saya, kegiatan ini penting karena pemerintah harus hadir untuk memberikan motivasi dan dukungan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang baru mulai bergerak,” ujar Melkisedek.
Produksi Beras Alor Masih Jauh dari Kebutuhan
Melkisedek mengungkapkan tantangan besar yang masih dihadapi Kabupaten Alor adalah tingginya kebutuhan beras dibandingkan kemampuan produksi lokal.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, kebutuhan beras masyarakat Alor mencapai sekitar 24 ribu ton per tahun. Sementara produksi beras lokal saat ini baru sekitar 2,2 ribu ton, atau hanya sekitar 11,41 persen dari total kebutuhan.
Artinya, masih terdapat kebutuhan sekitar 22 ribu ton yang harus dipenuhi melalui pasokan dari luar daerah.
Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan produksi pangan lokal.
“Kalau kebutuhan kita sekitar 24 ribu ton, sementara yang dapat kita produksi sendiri baru sekitar 2,2 ribu ton, berarti sebagian besar kebutuhan masih harus didatangkan dari luar daerah,” jelasnya.
Karena itu, berbagai kegiatan pertanian yang mulai dilakukan kelompok tani dinilai penting sebagai langkah awal mengurangi ketergantungan tersebut.
Tidak Harus Dimulai dari Skala Besar
Sekda menegaskan pembangunan pertanian tidak selalu harus dimulai melalui program berskala besar. Menurutnya, hal terpenting adalah keberanian memulai dengan memanfaatkan potensi yang tersedia.
“Kalau hari ini baru menghasilkan sedikit, tidak menjadi persoalan. Sedikit tetapi berhasil adalah modal untuk dikembangkan menjadi lebih besar,” katanya.
Pemerintah daerah akan mendorong pengembangan kelompok tani yang telah terbentuk sekaligus memanfaatkan lahan-lahan yang masih tersedia.
Melkisedek menilai peningkatan produksi dapat dilakukan secara bertahap dengan memperbaiki pola pengelolaan, meningkatkan produktivitas serta memperluas lahan pertanian secara konsisten.
Kunjungan Menteri Pertanian jadi Motivasi
Sekda juga menyinggung kunjungan Menteri Pertanian RI yang sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional ke Kabupaten Alor beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi momentum penting karena pemerintah pusat dapat melihat langsung potensi pertanian sekaligus kondisi masyarakat di daerah.
Kunjungan itu tidak hanya diisi kegiatan seremonial, tetapi juga peninjauan langsung ke lahan pertanian dan dialog dengan masyarakat.
“Seorang Menteri bisa datang langsung ke kebun-kebun, melihat tanaman ubi, pisang dan komoditas pertanian lainnya, kemudian berdialog langsung dengan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa potensi pertanian yang kita miliki mendapat perhatian sampai ke tingkat pemerintah pusat,” ungkapnya.
Perhatian tersebut, kata Melkisedek, harus menjadi motivasi bagi pemerintah daerah, penyuluh, kelompok tani dan masyarakat untuk semakin serius mengembangkan sektor pertanian.
Alor Timur Punya Potensi 1.600 Hektare
Selain pengembangan pertanian yang dilakukan kelompok masyarakat, Pemerintah Kabupaten Alor juga melihat peluang pengembangan kawasan pertanian dalam skala lebih luas, khususnya di wilayah Alor Timur.
Melkisedek menyebut terdapat potensi sekitar 1.600 hektare lahan yang berada di tiga desa di wilayah tersebut.
Potensi tersebut dinilai dapat menjadi kawasan strategis untuk meningkatkan produksi pangan apabila didukung perencanaan, infrastruktur, pengairan, pembinaan dan pengelolaan yang baik.
Karena itu, pemerintah daerah akan melakukan perhitungan teknis terkait luas lahan yang dapat dikembangkan, kebutuhan air, infrastruktur pendukung hingga kebutuhan pembiayaan.
“Kalau persoalannya adalah air, kita harus menghitung secara teknis bagaimana air dapat dialirkan dari sumber menuju lahan pertanian. Berapa jaraknya, berapa kebutuhan infrastrukturnya, dan berapa anggarannya. Semua itu harus dihitung dengan baik,” jelasnya.
Kolaborasi jadi Kunci Pengembangan Pertanian
Melkisedek juga mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, DPRD, penyuluh pertanian, kelompok tani dan masyarakat dalam memperjuangkan pembangunan infrastruktur pertanian.
Menurutnya, keterbatasan kemampuan anggaran daerah tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan berbagai upaya peningkatan produksi.
Program dan kegiatan, kata dia, harus diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Sekda memberikan apresiasi kepada para penyuluh pertanian dan kelompok tani yang telah berinisiatif mengembangkan kegiatan pertanian.
Pemerintah Kabupaten Alor berkomitmen memberikan dukungan melalui pembinaan, peningkatan kapasitas kelompok tani serta pengembangan infrastruktur yang mendukung produksi pertanian.
“Kita tidak harus langsung berpikir besar. Kita mulai dari apa yang kita miliki. Yang penting kita mau bekerja bersama, membangun kerja sama antara pemerintah, kelompok tani, penyuluh, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya.
Dari Kelompok Tani, Ketahanan Pangan Dibangun
Melkisedek berharap keberhasilan yang mulai terlihat pada sejumlah kelompok tani dapat menjadi contoh bahwa pengembangan pertanian di Kabupaten Alor dapat dilakukan secara bertahap.
Ia mengajak petani untuk tidak berhenti pada hasil yang telah dicapai, tetapi terus melakukan penanaman, memperbaiki pola pengelolaan, meningkatkan produktivitas dan memperluas lahan secara bertahap.
“Kalau hari ini hasilnya belum banyak, tidak menjadi masalah. Kita tanam lagi, kita perbaiki pengelolaannya, dan kita kembangkan secara bertahap,” pungkasnya.
Ia optimistis kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat dapat mengubah kegiatan pertanian berskala kecil menjadi kekuatan ekonomi yang lebih besar.
Kegiatan di Maiwal tersebut turut dihadiri Plt. Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Alor Harus Al Rasid Miran, S.P., Kepala Bapperida Kabupaten Alor Dominikus Nerius Salmau, ST., M.AP., Camat ABAD Yapi Nikodas Hinglir, S.P., Dansposramil ABAD, Kepala Desa Pintu Mas, para penyuluh pertanian, serta Ketua Kelompok Tani Romiye Desa Pintu Mas bersama seluruh anggota.
Pemerintah Kabupaten Alor menempatkan peningkatan produksi pangan lokal sebagai bagian penting dari pembangunan daerah. Upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas petani dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah.
Penguatan kelompok tani, pengembangan lahan, peningkatan infrastruktur pertanian serta kolaborasi lintas pihak diharapkan menjadi fondasi bagi terwujudnya ketahanan pangan Alor yang lebih kuat dan berkelanjutan. (rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan