Selain tenun, PERI NTT juga melihat berbagai produk dan usaha masyarakat lainnya yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Kami datang bukan hanya untuk melihat, tetapi juga ingin ikut merasakan dan mendukung apa yang menjadi usaha masyarakat, khususnya perempuan di desa. Tenun yang dihasilkan bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan budaya masyarakat NTT,” kata Actry.

PERI NTT Dorong Produk Perempuan Desa Masuk Pasar Lebih Luas

Actry menilai perempuan desa memiliki keterampilan dan potensi ekonomi yang besar. Karena itu, diperlukan dukungan agar produk yang mereka hasilkan dapat dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.

PERI NTT, kata dia, akan memanfaatkan jaringan yang dimiliki untuk membantu memperkenalkan dan mempromosikan produk-produk lokal tersebut.

“Kami akan berupaya agar melalui PERI, berbagai usaha masyarakat ini bisa dipromosikan lebih luas. Harapannya, semakin banyak orang mengenal produk mereka dan semakin besar pula peluang ekonomi yang bisa diperoleh masyarakat,” ujarnya.

Menurut Actry, pengembangan ekonomi masyarakat tidak harus mengorbankan adat dan budaya. Sebaliknya, kekayaan budaya seperti kain tenun dapat menjadi modal ekonomi apabila dikelola, dikembangkan dan dipromosikan secara konsisten.

Tenun jadi Titik Temu Budaya dan Ekonomi

Kain tenun tradisional memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat NTT. Selain digunakan dalam berbagai kegiatan adat, tenun juga menjadi sumber penghasilan bagi banyak perempuan di pedesaan.