MASIH lekat di berbagai sudut daerah kita, pernikahan dini kerap dianggap jalan keluar -bukan awal kehidupan bersama. Keputusan menikah di usia muda kerap lahir bukan dari kesiapan, melainkan tekanan ekonomi, rendahnya akses pendidikan, ataupun rasa malu yang dipaksakan oleh lingkungan. Padahal pernikahan bukan pelarian; ia adalah tanggung jawab yang menuntut kematangan fisik, mental, emosional, dan kemampuan berdiri di atas kaki sendiri.

Ketika salah satu syarat tersebut belum terpenuhi, kerugian yang ditanggung tak sedikit. Secara fisik, rahim yang belum matang dipaksa mengandung dan melahirkan, berisiko tinggi menghadapi komplikasi yang mengancam nyawa. Secara batin, remaja yang belum siap menghadapi konflik, tekanan hidup, dan beban mengasuh anak rentan jatuh ke dalam keputusasaan, bahkan kekerasan dalam rumah tangga. Yang paling berat pun sering kali terabaikan: putus sekolah. Ketika pintu pendidikan tertutup, tertutup pula jalan menuju kemandirian, peluang kerja yang layak, dan kemampuan membangun masa depan yang lebih baik.

Kami menyaksikan realita itu secara langsung saat melaksanakan penyuluhan di SMPN SATAP Rama, Desa Bangka Masa. Dari pengujian awal, pemahaman pelajar mengenai bahaya pernikahan dini masih sangat terbatas. Banyak yang menganggapnya lumrah, hanya melihat sisi yang tampak tanpa menyadari beban yang menyertainya. Namun setelah materi disampaikan -mulai dari akar masalah, dampak kesehatan reproduksi, bahaya pergaulan bebas, hingga pentingnya literasi -pemahaman mereka tumbuh. Penayangan kisah nyata di akhir sesi seakan membuka mata: pernikahan dini bukan solusi, melainkan pintu masuk pada masalah yang lebih pelik.