Apakah kompetensi benar-benar dihargai?

Apakah orang-orang yang memiliki kemampuan diberi ruang untuk berinovasi?

Apakah meritokrasi berjalan?

Apakah lembaga pendidikan memiliki ekosistem yang sehat untuk penelitian dan pengembangan?

Apakah anak-anak muda yang pulang dapat membawa gagasan baru tanpa dicurigai hanya karena mereka berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting.

Sebab panggilan pulang harus disertai alasan untuk pulang.

Kita tidak cukup berkata kepada diaspora, “Pulanglah.”

Kita juga harus mampu berkata:

“Di sini ada ruang untukmu berkarya.”

“Di sini keahlianmu dihargai.”

“Di sini gagasanmu dibutuhkan.”

“Di sini kita dapat membangun sesuatu bersama.”

Tanpa itu, Mai Fali E berisiko menjadi nostalgia.

Padahal yang kita perlukan bukan nostalgia.

Kita membutuhkan transformasi.

Dari Mai Fali E 1.0 ke Mai Fali E 3.0

Mungkin kita dapat membayangkan perjalanan Mai Fali E dalam tiga tahap.

Pada tahap pertama, Mai Fali E berarti pulang secara fisik.

Orang-orang Rote yang berada di luar daerah kembali untuk memenuhi kebutuhan pembangunan.

Tahap kedua adalah pulang untuk mengabdi.

Orang-orang yang telah memperoleh pendidikan dan pengalaman membawa profesi mereka untuk memperkuat masyarakat.

Hari ini kita membutuhkan tahap ketiga: Mai Fali E 3.0—pulang melalui pengetahuan.