Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Apakah kompetensi benar-benar dihargai?
Apakah orang-orang yang memiliki kemampuan diberi ruang untuk berinovasi?
Apakah meritokrasi berjalan?
Apakah lembaga pendidikan memiliki ekosistem yang sehat untuk penelitian dan pengembangan?
Apakah anak-anak muda yang pulang dapat membawa gagasan baru tanpa dicurigai hanya karena mereka berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting.
Sebab panggilan pulang harus disertai alasan untuk pulang.
Kita tidak cukup berkata kepada diaspora, “Pulanglah.”
Kita juga harus mampu berkata:
“Di sini ada ruang untukmu berkarya.”
“Di sini keahlianmu dihargai.”
“Di sini gagasanmu dibutuhkan.”
“Di sini kita dapat membangun sesuatu bersama.”
Tanpa itu, Mai Fali E berisiko menjadi nostalgia.
Padahal yang kita perlukan bukan nostalgia.
Kita membutuhkan transformasi.
Dari Mai Fali E 1.0 ke Mai Fali E 3.0
Mungkin kita dapat membayangkan perjalanan Mai Fali E dalam tiga tahap.
Pada tahap pertama, Mai Fali E berarti pulang secara fisik.
Orang-orang Rote yang berada di luar daerah kembali untuk memenuhi kebutuhan pembangunan.
Tahap kedua adalah pulang untuk mengabdi.
Orang-orang yang telah memperoleh pendidikan dan pengalaman membawa profesi mereka untuk memperkuat masyarakat.
Hari ini kita membutuhkan tahap ketiga: Mai Fali E 3.0—pulang melalui pengetahuan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan