Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Padahal dunia telah berubah.
Seorang anak Rote yang tinggal di Jakarta dapat tetap “pulang” ketika ia mengirim buku untuk sekolah di Rote. Seorang dosen yang bekerja di Kupang dapat “pulang” ketika ia membawa mahasiswa melakukan penelitian di Rote. Seorang dokter yang bekerja di luar daerah dapat “pulang” melalui pelayanan kesehatan atau jejaring profesional. Seorang diaspora yang tinggal di luar negeri dapat “pulang” dengan membuka akses pendidikan dan beasiswa bagi anak-anak di tanah kelahirannya.
Pulang, dengan demikian, tidak selalu membutuhkan tiket pesawat.
Pulang dapat berbentuk pengetahuan.
Pulang dapat berbentuk pengabdian.
Pulang dapat berbentuk jejaring.
Pulang dapat berbentuk kesempatan.
Pulang dapat berbentuk inspirasi.
Karena itu, saya kira sudah waktunya kita berbicara tentang Mai Fali E dalam pengertian yang lebih luas.
Bukan sekadar return migration, melainkan return of knowledge.
Bukan sekadar orangnya yang kembali, tetapi juga manfaat dari apa yang telah ia pelajari.
Jangan Takut Anak-Anak Rote Pergi
Kita tidak perlu takut anak-anak Rote pergi.
Justru, kita harus mendorong mereka untuk pergi belajar.
Biarkan mereka menempuh pendidikan tinggi di berbagai kota. Biarkan mereka menjadi guru, dokter, dosen, peneliti, pengusaha, birokrat, rohaniwan, profesional, dan pemimpin.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan